Selasa, 03 Februari 2026

File Epstein, Krisis Moral Barat, dan Momentum Islam

File Epstein bukan sekadar skandal pribadi seorang miliarder Amerika. Dokumen hukum dan kesaksian yang terbuka menunjukkan adanya jaringan elit global yang terlibat dalam pelecehan anak, perdagangan perempuan, hingga praktik keji yang selama ini ditutup rapat. Nama-nama besar dari dunia politik, ekonomi, hingga media disebut hadir dalam lingkaran gelap ini, dengan catatan ribuan kali keterlibatan dan puluhan negara yang terhubung. Epstein sendiri, yang diduga agen Mossad, ditemukan mati di penjara setelah kabar ia akan membocorkan data besar ini.

Peristiwa ini mengguncang sendi moral Barat yang selama dua abad terakhir mengklaim diri sebagai kompas moral dunia. Klaim kebebasan, hak asasi, dan hukum ternyata tidak mampu mencegah kejahatan sistematis yang dilakukan oleh elit mereka sendiri. Bersamaan dengan tragedi Gaza dan Thufaan Al-Aqsha, dunia mulai mempertanyakan ulang arah moralitas Barat. Banyak ulama menilai bahwa momentum ini adalah bukti Islam hadir sebagai alternatif yang lembut, logis, solutif, dan kuat. Data terbaru bahkan menunjukkan semakin banyak masyarakat Barat yang memeluk Islam, terutama generasi muda yang mencari jawaban atas krisis moral di sekitarnya.

File Epstein dan Gaza menjadi dua titik penting yang menyingkap wajah asli elit global. Dunia kini mulai berhenti percaya pada superioritas moral Barat, dan Islam tampil sebagai jawaban yang memberi harapan baru. 

Senin, 26 Januari 2026

PJJ Saat Banjir vs Melatih Resiliensi

Jakarta kembali dilanda banjir. Seperti biasa, dinas pendidikan memberlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Namun faktanya, PJJ sering kali tidak efektif—apalagi bagi anak-anak sekolah negeri. Realitanya, mereka justru menjadi “tidak sekolah”.

Saya punya sudut pandang berbeda.  
Dalam kondisi seperti ini, meminta siswa tetap hadir ke sekolah justru bisa menjadi latihan resiliensi. Anak-anak belajar menghadapi kendala nyata: banjir, akses terbatas, perjalanan yang tidak mudah. Hidup memang penuh tantangan, dan sekolah seharusnya menjadi tempat melatih daya juang, bukan sekadar ruang aman dari kesulitan.

Jika setiap kali ada kendala lalu solusinya adalah “libur” atau “PJJ seadanya”, maka kita sedang membentuk generasi yang rapuh. Padahal, dunia nyata menuntut mereka untuk tangguh, adaptif, dan siap menghadapi ketidakpastian.

Saya percaya: hadir ke sekolah dalam situasi sulit bukan sekadar soal belajar materi, tapi belajar hidup.  
Resiliensi tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menghadapi kesulitan.

Minggu, 25 Januari 2026

Pundi-Pundi Kasih Sayang Anak

Bayangkan hati seorang anak seperti sebuah wadah kecil, sebuah pundi-pundi kasih sayang yang terus terisi setiap kali ia menerima pelukan, perhatian, kata-kata lembut, atau sekadar kehadiran orang tua yang penuh cinta. Wadah ini menjadi fondasi bagi kejiwaan dan perkembangan mereka. Ketika pundi itu penuh, anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan mampu mengelola emosinya dengan lebih sehat. Ia berani mencoba hal baru, tidak takut gagal, dan belajar membangun hubungan yang hangat dengan orang lain. Setiap pelukan, senyuman, atau dukungan kecil menjadi energi yang membuat mereka merasa berharga dan dicintai.  

Sebaliknya, ketika pundi kasih sayang kosong, anak sering merasa tidak aman, mudah cemas, dan sulit mengatur emosinya. Mereka bisa menjadi mudah marah, menarik diri, atau mencari perhatian dengan cara yang negatif. Kekosongan itu membuat mereka ragu untuk mencoba hal baru, merasa tidak layak, dan kesulitan membangun kepercayaan pada orang lain. Dampaknya bukan hanya pada masa kecil, tetapi bisa terbawa hingga dewasa, memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri dan dunia di sekitarnya.  

Mengisi pundi kasih sayang sebenarnya bukanlah hal besar yang rumit. Justru ia terbentuk dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten: menyapa anak dengan senyum setiap pagi, mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, memberikan pelukan hangat, menghargai usaha meski hasilnya belum sempurna, dan menyediakan waktu berkualitas meski singkat. Semua itu adalah “deposito” cinta yang akan kembali dalam bentuk anak yang bahagia, tangguh, dan penuh kasih.  

Kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan investasi jangka panjang dalam kehidupan anak. Pundi-pundi yang penuh akan melahirkan pribadi yang percaya diri dan stabil secara emosi, sementara pundi yang kosong bisa meninggalkan luka batin yang sulit terhapus. Maka setiap pelukan, kata lembut, dan perhatian yang kita berikan hari ini adalah bekal berharga untuk masa depan mereka.

Senin, 12 Januari 2026

Amerika Serikat, Greenland, dan Bayangan Tatanan Purba

Amerika Serikat hari ini masih berdiri sebagai negara dengan persenjataan paling kuat di dunia. Dominasi militer dan teknologi mereka membuat banyak pihak melihat AS bukan lagi sekadar “polisi dunia”, melainkan perlahan berubah menjadi antagonis global. Bayangan terburuk muncul ketika ada kemungkinan mereka menargetkan Greenland sebagai wilayah strategis baru. Jika itu terjadi, dampaknya akan jauh melampaui batas geografis. NATO bisa kehilangan legitimasi dan bubar, PBB pun terancam runtuh karena organisasi yang lahir untuk menjaga perdamaian akan kehilangan makna ketika kekuatan terbesar dunia terang-terangan melanggar prinsip kedaulatan.  

Harapan bahwa Rusia dan China mampu menjadi penyeimbang ternyata tidak sesederhana itu. Meski keduanya memiliki kekuatan besar, mereka belum tentu bisa menandingi keunggulan teknologi, jaringan aliansi, dan kapasitas logistik Amerika. Rusia masih terkendala ekonomi dan isolasi politik, sementara China unggul dalam jumlah personel dan industri tetapi belum memiliki pengalaman global yang sebanding. Ketidakseimbangan ini membuat dunia berada di ambang tatanan baru yang berbahaya.  

Jika dominasi AS benar-benar tak terbendung, dunia bisa kembali ke pola lama: yang kuat menindas yang lemah. Hukum internasional akan kehilangan makna, negara kecil dan menengah hanya bisa bertahan dengan tunduk pada kekuatan besar, dan prinsip keadilan serta kedaulatan akan digantikan oleh logika kekuasaan semata. Sejarah mengingatkan kita bahwa tatanan purba semacam ini selalu berujung pada siklus konflik tanpa akhir. Imperium besar memang bisa bertahan lama, tetapi pada akhirnya runtuh karena kehilangan legitimasi dan kepercayaan dunia.  

Kabar buruknya, jika skenario invasi Greenland benar terjadi, dunia akan menghadapi krisis legitimasi global. NATO dan PBB bisa runtuh, Rusia dan China belum tentu mampu menahan, dan masyarakat internasional akan kembali ke era di mana senjata lebih berharga daripada diplomasi. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa setiap dominasi absolut selalu melahirkan perlawanan. Dari kekosongan legitimasi biasanya muncul gerakan baru yang menuntut tatanan lebih adil. Pertanyaannya bukan apakah dunia akan berubah, tetapi seberapa siap kita menghadapi perubahan itu.