Senin, 12 Januari 2026

Amerika Serikat, Greenland, dan Bayangan Tatanan Purba

Amerika Serikat hari ini masih berdiri sebagai negara dengan persenjataan paling kuat di dunia. Dominasi militer dan teknologi mereka membuat banyak pihak melihat AS bukan lagi sekadar “polisi dunia”, melainkan perlahan berubah menjadi antagonis global. Bayangan terburuk muncul ketika ada kemungkinan mereka menargetkan Greenland sebagai wilayah strategis baru. Jika itu terjadi, dampaknya akan jauh melampaui batas geografis. NATO bisa kehilangan legitimasi dan bubar, PBB pun terancam runtuh karena organisasi yang lahir untuk menjaga perdamaian akan kehilangan makna ketika kekuatan terbesar dunia terang-terangan melanggar prinsip kedaulatan.  

Harapan bahwa Rusia dan China mampu menjadi penyeimbang ternyata tidak sesederhana itu. Meski keduanya memiliki kekuatan besar, mereka belum tentu bisa menandingi keunggulan teknologi, jaringan aliansi, dan kapasitas logistik Amerika. Rusia masih terkendala ekonomi dan isolasi politik, sementara China unggul dalam jumlah personel dan industri tetapi belum memiliki pengalaman global yang sebanding. Ketidakseimbangan ini membuat dunia berada di ambang tatanan baru yang berbahaya.  

Jika dominasi AS benar-benar tak terbendung, dunia bisa kembali ke pola lama: yang kuat menindas yang lemah. Hukum internasional akan kehilangan makna, negara kecil dan menengah hanya bisa bertahan dengan tunduk pada kekuatan besar, dan prinsip keadilan serta kedaulatan akan digantikan oleh logika kekuasaan semata. Sejarah mengingatkan kita bahwa tatanan purba semacam ini selalu berujung pada siklus konflik tanpa akhir. Imperium besar memang bisa bertahan lama, tetapi pada akhirnya runtuh karena kehilangan legitimasi dan kepercayaan dunia.  

Kabar buruknya, jika skenario invasi Greenland benar terjadi, dunia akan menghadapi krisis legitimasi global. NATO dan PBB bisa runtuh, Rusia dan China belum tentu mampu menahan, dan masyarakat internasional akan kembali ke era di mana senjata lebih berharga daripada diplomasi. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa setiap dominasi absolut selalu melahirkan perlawanan. Dari kekosongan legitimasi biasanya muncul gerakan baru yang menuntut tatanan lebih adil. Pertanyaannya bukan apakah dunia akan berubah, tetapi seberapa siap kita menghadapi perubahan itu.