Sabtu, 16 Mei 2026

Diskresi Menteri atau Manipulasi Sistem?

Kasus pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek menjadi salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah birokrasi pendidikan Indonesia. Program ini awalnya dirancang untuk mempercepat digitalisasi sekolah melalui penyediaan perangkat Chromebook bagi jutaan siswa di seluruh negeri. Namun, di balik ambisi besar itu, muncul dugaan bahwa sistem pengadaan tidak berjalan sesuai aturan.  

Nadiem Makarim, sebagai Menteri Pendidikan, disebut membentuk tim bayangan bernama Mas Menteri Core Team yang berisi sejumlah tokoh pendidikan dan konsultan kebijakan. Tim ini dikabarkan memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan, bahkan disebut memiliki “akses penuh” terhadap keputusan strategis kementerian. Tuduhan jaksa menyebut adanya bypass tender, vendor lock-in dengan lisensi Chrome OS, serta markup harga laptop berspesifikasi rendah hingga Rp10 juta per unit.  

Masalah semakin rumit ketika audit menemukan ribuan Chromebook rusak di daerah 3T karena ketergantungan pada koneksi internet. Di sisi lain, muncul dugaan bahwa sebagian keuntungan proyek mengalir ke luar negeri melalui lisensi teknologi asing. Publik pun terbelah: sebagian melihat langkah Nadiem sebagai risiko inovasi yang wajar dalam upaya reformasi pendidikan, sementara lainnya menilai ini sebagai eksploitasi sistem yang merugikan negara.  

Kini, Nadiem menghadapi tuntutan hukum berat dengan ancaman 18 tahun penjara dan uang pengganti Rp5,6 triliun. Kasus ini bukan sekadar soal korupsi, tetapi juga benturan antara logika startup dan birokrasi negara—antara kecepatan inovasi dan transparansi publik. Jika ia bebas, akan muncul preseden bahwa diskresi menteri sah untuk inovasi cepat; jika dihukum, pesan yang tersisa jelas: tidak ada inovasi yang boleh mengorbankan integritas birokrasi dan uang rakyat.  

Tulisan ini mengajak pembaca merenung, apakah kita sedang menyaksikan kegagalan sistem atau keberanian untuk mengubahnya.  
Lihat lebih lanjut tentang digitalisasi pendidikan atau reformasi birokrasi.

Selasa, 21 April 2026

Hari Kartini: Kenapa Hanya Dia yang Dirayakan, Padahal Banyak Pahlawan Wanita Lain yang Lebih "Konkret" Jasanya?

 

Setiap tanggal 21 April, saya selalu merasa sedikit janggal. Bukan karena saya anti terhadap emansipasi wanita – justru sebaliknya. Tapi pertanyaan yang sama terus berulang di kepala saya: kenapa harus ada Hari Kartini? Bukankah Indonesia punya puluhan, bahkan ratusan pahlawan wanita lainnya? Dan jujur, jika boleh jujur, menurut saya beberapa dari mereka memiliki jasa yang jauh lebih konkret, lebih berdarah-darah, dan lebih langsung terasa dampaknya dibandingkan Kartini. Saya tidak sendirian dalam kegelisahan ini. Banyak teman-teman yang juga bertanya-tanya, apa istimewanya Kartini sehingga namanya begitu dominan, sementara pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, atau bahkan Laksamana Malahayati, seringkali hanya menjadi catatan kaki dalam buku sejarah?

Setelah membaca dan merenung cukup lama, saya mulai mengerti bahwa perbedaan utamanya bukan pada "besar kecilnya" jasa, melainkan pada jenis perjuangan yang mereka usung. Perjuangan Kartini berbeda secara fundamental dengan perjuangan para pahlawan wanita dari Aceh atau daerah lain yang mengangkat senjata. Jika kita mengukur jasa dari jumlah pertempuran yang dimenangkan atau darah yang ditumpahkan, maka Kartini jelas kalah telak. Cut Nyak Dien bertempur selama 25 tahun melawan Belanda hingga akhirnya ditangkap dalam keadaan tua dan sakit-sakitan. Itu luar biasa konkret. Namun, Kartini tidak pernah mengangkat senjata. Kartini menulis surat. Ia berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda. Ia merangkai gagasan tentang perlunya pendidikan bagi perempuan, tentang kebebasan dari budaya pingitan, dan tentang kritik terhadap poligami yang menurutnya merendahkan martabat perempuan.

Nah, di sinilah letak keunikan sekaligus kontroversi Kartini. Di zamannya – akhir abad 19 hingga awal abad 20 – seorang perempuan Jawa priyayi yang berani berpikir seperti itu adalah sesuatu yang revolusioner. Ia hidup di tengah tembok besar yang bernama tradisi. Perempuan tidak boleh keluar rumah, tidak boleh bersekolah, dan nasibnya sepenuhnya ditentukan oleh ayah atau suami. Kartini tidak bisa melawan secara fisik karena ia sendiri adalah produk dari lingkungan feodal tersebut. Satu-satunya senjata yang ia miliki adalah pena dan gagasan. Dan dengan senjata itu, ia berhasil menembus batas-batas budaya dan kolonial.

Surat-surat Kartini, yang kemudian dikumpulkan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), menjadi semacam bom waktu intelektual. Gagasannya menginspirasi para penguasa kolonial yang saat itu tengah menerapkan Politik Etis untuk mendirikan sekolah-sekolah bagi perempuan pribumi. Bahkan setelah Kartini meninggal di usia yang sangat muda – 25 tahun – sekolah-sekolah Kartini terus bermunculan. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi ia juga mulai mewujudkannya dengan mendirikan sekolah di Jepara atas izin suaminya, Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Jadi, meskipun jasanya tidak kelihatan seperti pertempuran di medan laga, Kartini adalah seorang "pemantik". Tanpa sumbu, bom tidak akan pernah meledak. Tanpa gagasan Kartini, mungkin gerakan pendidikan bagi perempuan Indonesia akan terhambat puluhan tahun.

Namun, saya tidak akan menutup mata terhadap kritik yang dilontarkan banyak sejarawan. Pertama, ada yang menyebut Kartini sebagai "produk kolonial". Mengapa? Karena keberaniannya menulis dan mengkritik budaya sendiri justru mendapatkan ruang karena adanya Politik Etis dari Belanda. Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) – sebuah hak istimewa yang tidak dimiliki kebanyakan pribumi. Kedua, ada ketidakkonsistenan yang cukup mencolok. Dalam surat-suratnya, Kartini sangat vokal menentang poligami. Ia menyebutnya sebagai "kejahatan peradaban". Namun, ketika ia menikah dengan Bupati Rembang yang sudah memiliki tiga orang istri, Kartini menjadi istri keempat. Tentu ada konteks bahwa pernikahan itu adalah jalan satu-satunya agar sekolah yang ia dirikan bisa tetap beroperasi dengan dukungan suami. Tapi tetap saja, kontradiksi ini membuat banyak pihak merasa bahwa narasi "Kartini sempurna" perlu diluruskan.

Lalu, mengapa pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno tetap memilih Kartini sebagai ikon utama Hari Perempuan? Menurut saya, ada dua alasan strategis. Pertama, warisan tertulis Kartini sangat kuat. Kita bisa membaca, mempelajari, dan mereproduksi gagasannya dengan mudah. Sementara pahlawan seperti Cut Nyak Dien atau Nyi Ageng Serang, meskipun jasanya monumental, dokumentasi pemikiran mereka tidak sekaya Kartini. Kedua, perjuangan Kartini bersifat intelektual dan tidak frontal. Di awal kemerdekaan, Indonesia membutuhkan simbol yang bisa mempersatukan tanpa memunculkan sentimen kedaerahan yang terlalu kuat. Kartini yang "halus" dan "beradab" versi narasi resmi lebih mudah diterima di berbagai kalangan.

Jadi, sebagai penutup, saya tidak akan mengatakan bahwa Hari Kartini tidak perlu ada. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kita perlu merayakan hari ini dengan kesadaran kritis. Hormati Kartini karena beliau telah membuka pintu pendidikan bagi perempuan Indonesia. Hormati gagasannya yang berani di zamannya. Tapi jangan lupakan pahlawan wanita lainnya. Jangan jadikan Kartini sebagai satu-satunya ikon. Karena perjuangan perempuan Indonesia tidak dimulai dan berakhir pada Kartini. Ada ribuan perempuan anonim yang berjuang di dapur, di sawah, di garis depan perang, dan di ruang-ruang kelas kecil. Mereka semua layak dikenang, tidak hanya setiap tanggal 21 April, tetapi setiap hari.

Selamat Hari Kartini. Tapi juga, selamat berjuang untuk semua perempuan Indonesia yang terus melawan ketidakadilan dengan caranya masing-masing.

Sabtu, 11 April 2026

Empat Puluh Empat Hari yang Mengguncang Dunia

Perang itu dimulai pada 28 Februari. Bukan dengan deklarasi resmi, tapi dengan rudal yang meluncur di malam hari. AS dan Israel menyerang fasilitas petrokimia Iran di Mahshahr dan jembatan strategis di Karaj. Dalihnya program nuklir. Tapi semua tahu, ini adalah puncak dari kebencian yang bertahun-tahun dipendam.

Iran tidak tinggal diam. Rudal-rudal balasan menghujani Tel Aviv dan Haifa. Pangkalan AS di Bahrain ikut terbakar. Yang paling membuat dunia gelisah, Iran menutup Selat Hormuz. Dalam semalam, harga minyak melonjak ke 109 dolar per barel. Ekonomi global terhuyung. Amazon dan maskapai penerbangan mulai membebankan biaya perang ke kantong konsumen biasa.

Selama 44 hari, dunia menyaksikan pertarungan sengit. Yang menarik, tidak semua negara berpihak pada AS. Jerman dan Spanyol menolak membantu. Rusia dan China diam-diam memberi intelijen ke Iran. Indonesia dan Malaysia pun menolak menjadi bagian dari resolusi anti-Iran di PBB. Iran bertahan. Tekanan ke AS dan Israel justru membesar.

Akhirnya pada 7 April, gencatan senjata dua pekan tercapai. Mediator Pakistan berhasil membujuk AS dan Iran untuk duduk diam. Iran membuka kembali Selat Hormuz. AS menghentikan pengeboman. Dunia menarik napas lega.

Tapi lega itu hanya bertahan sehari.

Keesokan harinya, Israel malah melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon. Mereka menyebutnya Operasi Kegelapan Abadi. Dalam dua hari, lebih dari 250 warga Lebanon tewas. Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak berlaku untuk Lebanon.

Iran marah besar. Mereka mengancam akan membatalkan kesepakatan jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan. Dunia kembali cemas. Pakistan sebagai mediator kebingungan. AS terpojok oleh sekutunya sendiri.

Jadi, apakah perang benar-benar berakhir? Jawabannya tidak sederhana. Tembakan antara AS dan Iran memang telah berhenti. Selat Hormuz kembali terbuka. Tapi di Lebanon, darah masih mengalir. Dan selama Israel terus bergerak, ancaman pembatalan gencatan senjata akan selalu membayangi.

Perang ini berhenti, tapi belum berakhir. Dan kita semua hanya bisa menunggu, apakah akal sehat akan menang, atau justru rudal yang kembali berbicara.

Sabtu, 28 Maret 2026

Como 1907: Klub Nyata dengan Manajemen ala Football Manager

Bayangkan sebuah klub yang dalam tujuh tahun melompat dari kasta keempat Italia ke papan atas Serie A, bahkan kini membidik Liga Champions. Itulah Como 1907. Dan yang membuat kisah ini terasa seperti permainan Football Manager adalah bagaimana mereka menjalankannya: di belakang ada pemilik kaya raya dari Indonesia, keluarga Hartono (Djarum), yang memberi kebebasan penuh pada manajemen; di depan ada Cesc Fabregas yang bukan sekadar pelatih, tapi arsitek tim dengan visi jangka panjang.

Seperti dalam Football Manager, Como tidak sekadar belanja pemain mahal. Mereka punya cetak biru yang jelas. Bintang muda seperti Nico Paz dipoles menjadi kreator utama, veteran seperti Sergi Roberto dan Alberto Moreno didatangkan untuk menjadi pemimpin ruang ganti, sementara penyerang sekelas Álvaro Morata masuk lewat skema pinjaman cerdas. Pendekatan ini—memadukan potensi jual tinggi, pengalaman gratis, dan fleksibilitas pasar pinjaman—adalah strategi yang akrab bagi siapa pun yang pernah membawa tim kecil jadi raksasa di layar komputer.

Yang lebih menarik, semua ini terjadi dengan tempo eksplosif: promosi beruntun, investasi tepat sasaran, dan kepercayaan penuh pada pelatih. Como 1907 membuktikan bahwa resep sukses di Football Manager—manajemen visioner, pemilik suportif, dan filosofi permainan yang konsisten—bisa benar-benar bekerja di dunia nyata. Dan seperti dalam gim, kita semua penasaran: sejauh mana proyek ini bisa melangkah?

Jumat, 20 Maret 2026

Perbedaan dalam Islam: Rahmat yang Menyatukan


Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti, namun tak jarang kita menyaksikan fenomena “lebaran duluan” di tengah masyarakat. Tahun ini, misalnya, Ormas Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal lebih awal dibandingkan pemerintah. Sebagian umat pun memilih untuk berlebaran duluan bersama Muhammadiyah, termasuk kami.  

Apakah perbedaan ini harus dipandang sebagai masalah? Tidak. Islam sendiri mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian dari rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:  

"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu. Tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu."  
(QS. Hud: 118-119)  

Perbedaan dalam penentuan hari raya bukanlah pertentangan, melainkan ruang untuk saling menghormati. Rasulullah ﷺ pun bersabda:  
"Puasa itu pada hari kalian berpuasa, Idul Fitri itu pada hari kalian beridul fitri, dan Idul Adha itu pada hari kalian beridul adha." (HR. Tirmidzi, no. 697)  

Dengan dalil ini, jelas bahwa kebersamaan umat dalam menjalankan ibadah adalah yang utama, meski cara penentuan waktunya berbeda.  

Kami memilih untuk ikut berlebaran duluan bersama Muhammadiyah, bukan karena ingin berbeda, melainkan karena ingin konsisten dengan keyakinan yang kami ikuti. Namun, di atas semua itu, ukhuwah Islamiyah tetap menjadi prioritas. Lebaran adalah momentum silaturahmi, bukan pemisah.  

Semoga perbedaan ini justru memperkaya keberagaman umat, mengajarkan kita untuk lebih bijak, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. Karena pada akhirnya, Idul Fitri adalah tentang kembali kepada fitrah, bukan sekadar tanggal di kalender. 🌙✨  

Selasa, 03 Februari 2026

File Epstein, Krisis Moral Barat, dan Momentum Islam

File Epstein bukan sekadar skandal pribadi seorang miliarder Amerika. Dokumen hukum dan kesaksian yang terbuka menunjukkan adanya jaringan elit global yang terlibat dalam pelecehan anak, perdagangan perempuan, hingga praktik keji yang selama ini ditutup rapat. Nama-nama besar dari dunia politik, ekonomi, hingga media disebut hadir dalam lingkaran gelap ini, dengan catatan ribuan kali keterlibatan dan puluhan negara yang terhubung. Epstein sendiri, yang diduga agen Mossad, ditemukan mati di penjara setelah kabar ia akan membocorkan data besar ini.

Peristiwa ini mengguncang sendi moral Barat yang selama dua abad terakhir mengklaim diri sebagai kompas moral dunia. Klaim kebebasan, hak asasi, dan hukum ternyata tidak mampu mencegah kejahatan sistematis yang dilakukan oleh elit mereka sendiri. Bersamaan dengan tragedi Gaza dan Thufaan Al-Aqsha, dunia mulai mempertanyakan ulang arah moralitas Barat. Banyak ulama menilai bahwa momentum ini adalah bukti Islam hadir sebagai alternatif yang lembut, logis, solutif, dan kuat. Data terbaru bahkan menunjukkan semakin banyak masyarakat Barat yang memeluk Islam, terutama generasi muda yang mencari jawaban atas krisis moral di sekitarnya.

File Epstein dan Gaza menjadi dua titik penting yang menyingkap wajah asli elit global. Dunia kini mulai berhenti percaya pada superioritas moral Barat, dan Islam tampil sebagai jawaban yang memberi harapan baru. 

Senin, 26 Januari 2026

PJJ Saat Banjir vs Melatih Resiliensi

Jakarta kembali dilanda banjir. Seperti biasa, dinas pendidikan memberlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Namun faktanya, PJJ sering kali tidak efektif—apalagi bagi anak-anak sekolah negeri. Realitanya, mereka justru menjadi “tidak sekolah”.

Saya punya sudut pandang berbeda.  
Dalam kondisi seperti ini, meminta siswa tetap hadir ke sekolah justru bisa menjadi latihan resiliensi. Anak-anak belajar menghadapi kendala nyata: banjir, akses terbatas, perjalanan yang tidak mudah. Hidup memang penuh tantangan, dan sekolah seharusnya menjadi tempat melatih daya juang, bukan sekadar ruang aman dari kesulitan.

Jika setiap kali ada kendala lalu solusinya adalah “libur” atau “PJJ seadanya”, maka kita sedang membentuk generasi yang rapuh. Padahal, dunia nyata menuntut mereka untuk tangguh, adaptif, dan siap menghadapi ketidakpastian.

Saya percaya: hadir ke sekolah dalam situasi sulit bukan sekadar soal belajar materi, tapi belajar hidup.  
Resiliensi tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menghadapi kesulitan.