Setiap tanggal 21 April, saya selalu merasa sedikit janggal. Bukan karena saya anti terhadap emansipasi wanita – justru sebaliknya. Tapi pertanyaan yang sama terus berulang di kepala saya: kenapa harus ada Hari Kartini? Bukankah Indonesia punya puluhan, bahkan ratusan pahlawan wanita lainnya? Dan jujur, jika boleh jujur, menurut saya beberapa dari mereka memiliki jasa yang jauh lebih konkret, lebih berdarah-darah, dan lebih langsung terasa dampaknya dibandingkan Kartini. Saya tidak sendirian dalam kegelisahan ini. Banyak teman-teman yang juga bertanya-tanya, apa istimewanya Kartini sehingga namanya begitu dominan, sementara pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, atau bahkan Laksamana Malahayati, seringkali hanya menjadi catatan kaki dalam buku sejarah?
Setelah membaca dan merenung cukup lama, saya mulai mengerti bahwa perbedaan utamanya bukan pada "besar kecilnya" jasa, melainkan pada jenis perjuangan yang mereka usung. Perjuangan Kartini berbeda secara fundamental dengan perjuangan para pahlawan wanita dari Aceh atau daerah lain yang mengangkat senjata. Jika kita mengukur jasa dari jumlah pertempuran yang dimenangkan atau darah yang ditumpahkan, maka Kartini jelas kalah telak. Cut Nyak Dien bertempur selama 25 tahun melawan Belanda hingga akhirnya ditangkap dalam keadaan tua dan sakit-sakitan. Itu luar biasa konkret. Namun, Kartini tidak pernah mengangkat senjata. Kartini menulis surat. Ia berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda. Ia merangkai gagasan tentang perlunya pendidikan bagi perempuan, tentang kebebasan dari budaya pingitan, dan tentang kritik terhadap poligami yang menurutnya merendahkan martabat perempuan.
Nah, di sinilah letak keunikan sekaligus kontroversi Kartini. Di zamannya – akhir abad 19 hingga awal abad 20 – seorang perempuan Jawa priyayi yang berani berpikir seperti itu adalah sesuatu yang revolusioner. Ia hidup di tengah tembok besar yang bernama tradisi. Perempuan tidak boleh keluar rumah, tidak boleh bersekolah, dan nasibnya sepenuhnya ditentukan oleh ayah atau suami. Kartini tidak bisa melawan secara fisik karena ia sendiri adalah produk dari lingkungan feodal tersebut. Satu-satunya senjata yang ia miliki adalah pena dan gagasan. Dan dengan senjata itu, ia berhasil menembus batas-batas budaya dan kolonial.
Surat-surat Kartini, yang kemudian dikumpulkan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), menjadi semacam bom waktu intelektual. Gagasannya menginspirasi para penguasa kolonial yang saat itu tengah menerapkan Politik Etis untuk mendirikan sekolah-sekolah bagi perempuan pribumi. Bahkan setelah Kartini meninggal di usia yang sangat muda – 25 tahun – sekolah-sekolah Kartini terus bermunculan. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi ia juga mulai mewujudkannya dengan mendirikan sekolah di Jepara atas izin suaminya, Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Jadi, meskipun jasanya tidak kelihatan seperti pertempuran di medan laga, Kartini adalah seorang "pemantik". Tanpa sumbu, bom tidak akan pernah meledak. Tanpa gagasan Kartini, mungkin gerakan pendidikan bagi perempuan Indonesia akan terhambat puluhan tahun.
Namun, saya tidak akan menutup mata terhadap kritik yang dilontarkan banyak sejarawan. Pertama, ada yang menyebut Kartini sebagai "produk kolonial". Mengapa? Karena keberaniannya menulis dan mengkritik budaya sendiri justru mendapatkan ruang karena adanya Politik Etis dari Belanda. Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) – sebuah hak istimewa yang tidak dimiliki kebanyakan pribumi. Kedua, ada ketidakkonsistenan yang cukup mencolok. Dalam surat-suratnya, Kartini sangat vokal menentang poligami. Ia menyebutnya sebagai "kejahatan peradaban". Namun, ketika ia menikah dengan Bupati Rembang yang sudah memiliki tiga orang istri, Kartini menjadi istri keempat. Tentu ada konteks bahwa pernikahan itu adalah jalan satu-satunya agar sekolah yang ia dirikan bisa tetap beroperasi dengan dukungan suami. Tapi tetap saja, kontradiksi ini membuat banyak pihak merasa bahwa narasi "Kartini sempurna" perlu diluruskan.
Lalu, mengapa pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno tetap memilih Kartini sebagai ikon utama Hari Perempuan? Menurut saya, ada dua alasan strategis. Pertama, warisan tertulis Kartini sangat kuat. Kita bisa membaca, mempelajari, dan mereproduksi gagasannya dengan mudah. Sementara pahlawan seperti Cut Nyak Dien atau Nyi Ageng Serang, meskipun jasanya monumental, dokumentasi pemikiran mereka tidak sekaya Kartini. Kedua, perjuangan Kartini bersifat intelektual dan tidak frontal. Di awal kemerdekaan, Indonesia membutuhkan simbol yang bisa mempersatukan tanpa memunculkan sentimen kedaerahan yang terlalu kuat. Kartini yang "halus" dan "beradab" versi narasi resmi lebih mudah diterima di berbagai kalangan.
Jadi, sebagai penutup, saya tidak akan mengatakan bahwa Hari Kartini tidak perlu ada. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kita perlu merayakan hari ini dengan kesadaran kritis. Hormati Kartini karena beliau telah membuka pintu pendidikan bagi perempuan Indonesia. Hormati gagasannya yang berani di zamannya. Tapi jangan lupakan pahlawan wanita lainnya. Jangan jadikan Kartini sebagai satu-satunya ikon. Karena perjuangan perempuan Indonesia tidak dimulai dan berakhir pada Kartini. Ada ribuan perempuan anonim yang berjuang di dapur, di sawah, di garis depan perang, dan di ruang-ruang kelas kecil. Mereka semua layak dikenang, tidak hanya setiap tanggal 21 April, tetapi setiap hari.
Selamat Hari Kartini. Tapi juga, selamat berjuang untuk semua perempuan Indonesia yang terus melawan ketidakadilan dengan caranya masing-masing.

