Jakarta kembali dilanda banjir. Seperti biasa, dinas pendidikan memberlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Namun faktanya, PJJ sering kali tidak efektif—apalagi bagi anak-anak sekolah negeri. Realitanya, mereka justru menjadi “tidak sekolah”.
Saya punya sudut pandang berbeda.
Dalam kondisi seperti ini, meminta siswa tetap hadir ke sekolah justru bisa menjadi latihan resiliensi. Anak-anak belajar menghadapi kendala nyata: banjir, akses terbatas, perjalanan yang tidak mudah. Hidup memang penuh tantangan, dan sekolah seharusnya menjadi tempat melatih daya juang, bukan sekadar ruang aman dari kesulitan.
Jika setiap kali ada kendala lalu solusinya adalah “libur” atau “PJJ seadanya”, maka kita sedang membentuk generasi yang rapuh. Padahal, dunia nyata menuntut mereka untuk tangguh, adaptif, dan siap menghadapi ketidakpastian.
Saya percaya: hadir ke sekolah dalam situasi sulit bukan sekadar soal belajar materi, tapi belajar hidup.
Resiliensi tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menghadapi kesulitan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar