Sabtu, 28 Maret 2026

Como 1907: Klub Nyata dengan Manajemen ala Football Manager

Bayangkan sebuah klub yang dalam tujuh tahun melompat dari kasta keempat Italia ke papan atas Serie A, bahkan kini membidik Liga Champions. Itulah Como 1907. Dan yang membuat kisah ini terasa seperti permainan Football Manager adalah bagaimana mereka menjalankannya: di belakang ada pemilik kaya raya dari Indonesia, keluarga Hartono (Djarum), yang memberi kebebasan penuh pada manajemen; di depan ada Cesc Fabregas yang bukan sekadar pelatih, tapi arsitek tim dengan visi jangka panjang.

Seperti dalam Football Manager, Como tidak sekadar belanja pemain mahal. Mereka punya cetak biru yang jelas. Bintang muda seperti Nico Paz dipoles menjadi kreator utama, veteran seperti Sergi Roberto dan Alberto Moreno didatangkan untuk menjadi pemimpin ruang ganti, sementara penyerang sekelas Álvaro Morata masuk lewat skema pinjaman cerdas. Pendekatan ini—memadukan potensi jual tinggi, pengalaman gratis, dan fleksibilitas pasar pinjaman—adalah strategi yang akrab bagi siapa pun yang pernah membawa tim kecil jadi raksasa di layar komputer.

Yang lebih menarik, semua ini terjadi dengan tempo eksplosif: promosi beruntun, investasi tepat sasaran, dan kepercayaan penuh pada pelatih. Como 1907 membuktikan bahwa resep sukses di Football Manager—manajemen visioner, pemilik suportif, dan filosofi permainan yang konsisten—bisa benar-benar bekerja di dunia nyata. Dan seperti dalam gim, kita semua penasaran: sejauh mana proyek ini bisa melangkah?

Jumat, 20 Maret 2026

Perbedaan dalam Islam: Rahmat yang Menyatukan


Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti, namun tak jarang kita menyaksikan fenomena “lebaran duluan” di tengah masyarakat. Tahun ini, misalnya, Ormas Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal lebih awal dibandingkan pemerintah. Sebagian umat pun memilih untuk berlebaran duluan bersama Muhammadiyah, termasuk kami.  

Apakah perbedaan ini harus dipandang sebagai masalah? Tidak. Islam sendiri mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian dari rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:  

"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu. Tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu."  
(QS. Hud: 118-119)  

Perbedaan dalam penentuan hari raya bukanlah pertentangan, melainkan ruang untuk saling menghormati. Rasulullah ﷺ pun bersabda:  
"Puasa itu pada hari kalian berpuasa, Idul Fitri itu pada hari kalian beridul fitri, dan Idul Adha itu pada hari kalian beridul adha." (HR. Tirmidzi, no. 697)  

Dengan dalil ini, jelas bahwa kebersamaan umat dalam menjalankan ibadah adalah yang utama, meski cara penentuan waktunya berbeda.  

Kami memilih untuk ikut berlebaran duluan bersama Muhammadiyah, bukan karena ingin berbeda, melainkan karena ingin konsisten dengan keyakinan yang kami ikuti. Namun, di atas semua itu, ukhuwah Islamiyah tetap menjadi prioritas. Lebaran adalah momentum silaturahmi, bukan pemisah.  

Semoga perbedaan ini justru memperkaya keberagaman umat, mengajarkan kita untuk lebih bijak, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. Karena pada akhirnya, Idul Fitri adalah tentang kembali kepada fitrah, bukan sekadar tanggal di kalender. 🌙✨