Iran tidak tinggal diam. Rudal-rudal balasan menghujani Tel Aviv dan Haifa. Pangkalan AS di Bahrain ikut terbakar. Yang paling membuat dunia gelisah, Iran menutup Selat Hormuz. Dalam semalam, harga minyak melonjak ke 109 dolar per barel. Ekonomi global terhuyung. Amazon dan maskapai penerbangan mulai membebankan biaya perang ke kantong konsumen biasa.
Selama 44 hari, dunia menyaksikan pertarungan sengit. Yang menarik, tidak semua negara berpihak pada AS. Jerman dan Spanyol menolak membantu. Rusia dan China diam-diam memberi intelijen ke Iran. Indonesia dan Malaysia pun menolak menjadi bagian dari resolusi anti-Iran di PBB. Iran bertahan. Tekanan ke AS dan Israel justru membesar.
Akhirnya pada 7 April, gencatan senjata dua pekan tercapai. Mediator Pakistan berhasil membujuk AS dan Iran untuk duduk diam. Iran membuka kembali Selat Hormuz. AS menghentikan pengeboman. Dunia menarik napas lega.
Tapi lega itu hanya bertahan sehari.
Keesokan harinya, Israel malah melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon. Mereka menyebutnya Operasi Kegelapan Abadi. Dalam dua hari, lebih dari 250 warga Lebanon tewas. Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak berlaku untuk Lebanon.
Iran marah besar. Mereka mengancam akan membatalkan kesepakatan jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan. Dunia kembali cemas. Pakistan sebagai mediator kebingungan. AS terpojok oleh sekutunya sendiri.
Jadi, apakah perang benar-benar berakhir? Jawabannya tidak sederhana. Tembakan antara AS dan Iran memang telah berhenti. Selat Hormuz kembali terbuka. Tapi di Lebanon, darah masih mengalir. Dan selama Israel terus bergerak, ancaman pembatalan gencatan senjata akan selalu membayangi.
Perang ini berhenti, tapi belum berakhir. Dan kita semua hanya bisa menunggu, apakah akal sehat akan menang, atau justru rudal yang kembali berbicara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar