Rabu, 26 Agustus 2026

Psikologi Individual Alfred Adler: Dari Inferioritas ke Makna Sosial

Alfred Adler melihat manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berjuang mengatasi rasa keterbatasan dirinya. Sejak lahir, kita membawa perasaan inferioritas yang mendorong untuk berkembang, mencari cara agar lebih mampu, lebih berarti, dan lebih terhubung dengan orang lain. Dari sinilah muncul gagasan kompensasi—usaha menutupi kelemahan dengan kekuatan baru—yang bisa sehat bila diarahkan pada prestasi, atau berlebihan bila berubah menjadi sikap superior yang arogan.  

Bagi Adler, tujuan hidup tidak hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga kontribusi sosial. Ia menekankan pentingnya social interest, yaitu rasa memiliki dan bekerja sama dengan komunitas. Kepribadian setiap orang terbentuk dari gaya hidup unik yang dibangun sejak masa kecil, dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, dan bahkan urutan kelahiran. Anak sulung, tengah, atau bungsu akan membawa dinamika berbeda dalam cara mereka menempatkan diri di dunia.  

Teori Adler mengajarkan bahwa kesehatan mental bukan sekadar bebas dari masalah, melainkan kemampuan untuk merasa berharga, berguna, dan terhubung dengan sesama. Hidup menjadi perjalanan mengatasi rasa kurang, menuju kesempurnaan yang tidak egois, melainkan bermakna bagi orang lain.

Minggu, 16 Agustus 2026

Na Willa: Dunia Anak yang Penuh Imajinasi

Film Na Willa adalah sebuah karya yang begitu hangat dan penuh nostalgia. Berlatar Surabaya tahun 1960-an, ia membawa penonton masuk ke dunia anak-anak yang polos, penuh imajinasi, dan sarat keindahan sederhana. Dari sudut pandang Na Willa yang baru berusia enam tahun, kita diajak melihat bagaimana masa kecil bisa menjadi ruang belajar alami—dari bermain di gang, berinteraksi dengan tetangga, hingga merasakan kasih sayang keluarga.
Mak Marie digambarkan sebagai sosok ibu yang penuh kelembutan, mendidik Na Willa dengan sabar dan penuh cinta. Meski Pak Paul harus bekerja jauh, komunikasi tetap terjalin sehingga peran ayah tidak pernah hilang. Film ini menekankan bahwa pengasuhan adalah kerja sama, bahkan dalam kondisi LDR, ayah tetap hadir dalam perkembangan anak.
Yang menarik, Na Willa juga menghadirkan gambaran sekolah anak usia dini yang ideal, padahal konsep PAUD belum dikenal luas saat itu. Kehadiran Bu Guru Tini sebagai figur pendidik klasik memperlihatkan bagaimana sekolah bisa menjadi ruang aman sekaligus disiplin, meski masih sederhana. Semua ini dirangkai dengan nuansa musikal yang membuat cerita terasa hidup, menyenangkan, dan mendidik.
Pada akhirnya, Na Willa bukan hanya tontonan keluarga, melainkan refleksi pendidikan: bagaimana anak tumbuh lewat kasih sayang orang tua, dukungan guru, dan lingkungan yang memberi ruang bagi imajinasi. Sebuah film yang mendidik sekaligus menghibur, menjadikan nostalgia masa kecil sebagai inspirasi masa kini.