Rabu, 11 Juni 2008

Menanam Bakau

Saya sempat menanam bakau ketika acara Education Inside 2008 tanggal 15 Mei 2008 kemarin. Syukurnya saya sempat mengabadikan diri saya ketika menanam bakau itu. Semoga satu bakau yang saya tanam dapat bermanfaat bagi lingkungan, amien...

Senin, 02 Juni 2008

Epul dari Garut

Ini adalah gambar saya dan sahabat saya Epul - nama lengkapnya Saepulloh (pake P bukan F lho...). Ia orang Garut asli. Ia pintar, baik hati, sederhana dan menyenangkan.

Dari Training ESQ


Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Demi bulan apabila mengiringi
Demi siang hari bila menampakkan diri
Demi malam apabila menutupi
Demi langit dan seluruh binaannya
Demi bumi dan semua yang ada di hamparannya
Demi jiwa dan semua penyempurnaannya
Allah mengilhami sukma kefasikan dan ketaqwaan
Beruntunglah mereka yang menyucikannya
Merugilah mereka yang mengotorinya

Snada; dari Surat Asy-Syams (91) ayat 1-10


Itulah kata-kata yang selalu terdengar selama mengikuti training ESQ 27-29 Mei kemarin. Indah dan penuh makna. Begitulah cara Allah berjanji. Namun sayangnya banyak makhluk-Nya, termasuk diriku ini yang menafikkan janji mulia itu. Aku bersyahadat tapi tak ada Allah di hatiku, aku sholat tapi tak ada niat dan keikhlasan dalam menjalaninya, hanya sekadar menggugurkan kewajiban dan takut dosa. Aku berikrar bahwa percaya dan cinta Rasulullah. Tapi tak pernah kuteladani akhlaknya. Sombong dan egois adalah topeng yang membelenggu diriku selama ini. Merasa hebat, pintar, baik, sholehah, dan segudang keangkuhan lain yang menutupi dan membutakan mata hati. Mencintai makhluk-Nya tapi melenakan Sang Pencipta.... Astaghfirullah.... Tapi Allah sangat baik, Dia masih memberi kesempatan bagiku untuk terbangun dari mimpi-mimpi semu selama ini. Memberiku kesempatan untuk memohon ampun, bertobat, dan memperbaiki diri.

Kawan, sahabatku, dan siapa pun kalian yang pernah mengenalku dan merasa tersakiti, dengan segenap kerendahan hati, aku memohon maaf kalian. Karena itulah salah satu jalan untuk makin mendekat pada-Nya.

"dan nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?"

Kamis, 22 Mei 2008

Tak Ada Manusia yang Sempurna

Indahnya nikmat keimanan. Hati yang semula gelap menjadi terang. Bahaya dan penyakit di sekitar diri yang sebelumnya tertutupi, bisa terlihat jelas. Kian tampak mana yang baik, dan yang buruk. Dalam hal apa pun. Termasuk, dalam pergaulan dan persaudaraan Islam.

Saat ini tak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam rupa, tapi ada kekurangan dalam gaya bicara. Bagus dalam penguasaan ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi kalau ada singgungan. Kuat di satu sisi, tapi rentan di sudut yang lain.

Dari situlah seorang mukmin mesti cermat mengukur timbangan penilaian terhadap seseorang. Apa kekurangan dan kesalahannya. Kenapa bisa begitu. Dan seterusnya. Seperti apa pun orang yang sedang dinilai, keadilan tak boleh dilupakan. Walaupun terhadap orang yang tidak disukai. Yakinlah kalau di balik keburukan sifat seorang mukmin, pasti ada kebaikan di sisi yang lain. Tidak boleh main ‘pukul rata’: “Ah, orang seperti itu memang tidak pernah baik!”

Allah swt. meminta orang-orang beriman agar senantiasa bersikap adil. Firman-Nya dalam surah Al-Maidah ayat 8, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah; menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari timbangan yang adil itulah, penilaian jadi proporsional. Tidak serta-merta mencap bahwa orang itu pasti salah. Mungkin, ada sebab yang membuat ia lalai, lengah, dan kehilangan kendali. Bahkan boleh jadi, jika pada posisi dan situasi yang sama, kita pun tidak lebih bagus dari orang yang kita nilai.

Ego manusia selalu mengatakan kalau ‘sayalah yang selalu baik. Dan yang lain buruk’. Dominasi ego seperti inilah yang kerap membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan diri tak pernah terlihat. Padahal, kalau saja bukan karena anugerah Allah berupa tertutupnya aib diri, tentu orang lain pun akan secara jelas menemukan aib kita.

Sebelum memberi reaksi terhadap aib orang lain, lihatlah secara jernih seperti apa mutu diri sendiri. Lebih baikkah? Atau, jangan-jangan lebih buruk. Dari situlah ucapan syukur dan istighfar mengalir dari hati yang paling dalam. Syukur kalau diri ternyata lebih baik. Dan istighfar jika terlihat bahwa diri sendiri lebih buruk.

Tatap aib saudara mukmin lain dengan pandangan baik sangka. Mungkin ia terpaksa. Mungkin itulah pilihan buruk dari sekian yang terburuk. Mungkin langkah dia jauh lebih baik dari kita, jika berada pada situasi dan kondisi yang sama. (aal)

Kamis, 08 Mei 2008

Pulang ke Jakarta

Ketika pesawat mendarat kembali di Bandara Internasional Soekarno – Hatta Jakarta, saya merasa sangat gembira. Terbayang di depan pelupuk mata rumah tercinta, Mama, Papa dan adik2.

Pulang, itulah selalu kata yang membahagiakan bagi saya ketika habis bepergian terlebih setelah bepergian jauh sampai meninggalkan pulau Jawa. Senangnya melihat rumah dan anggota keluarga. Dan saya sangat mensyukuri kedatangan saya di Jakarta. I love Jakarta...

Senin, 28 April 2008

Monas di Malam Hari

Jarang-jarang saya lihat teman-teman saya yang punya FS atau blog itu berfoto dengan latar Monas. Padahal Monas adalah lambang nasional Indonesia, suatu kebanggaan bangsa. Maka terlintas ide untuk bisa berfoto di depan Monas dan di up load di Friendster dan blog saya. Saya ingin tunjukkan kepada dunia bahwa saya adalah nasionalis sejati, pencinta tanah air dan bangga pada monumen nasional milik bangsa ini.

Maka berangkatlah saya ke Monas, dan saya pilih malam hari agar tidak panas (lagi agak bermasalah dengan sinar UV) dan mendapatkan pemandangan yang berbeda. Lagian kalo datang di Monas siang hari sudah terlalu sering biasanya apalagi sambil demo atau lari pagi bersama sahabat-sahabat saya. Ternyata Monas di malam hari lebih menarik dibandingkan siang hari. Lampu yang menyala dengan bentuk yang khas mengingatkan kita pada arsitektur Eropa, jalan yang dibuat seolah-olah dari batu-batu itu mengingatkan kita pada jalan-jalan di taman Paris, dan kursi taman yang banyak lengkap dengan koridornya mengingatkan kita akan Central Park di New York. Tapi ini di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Kekhasan Eropa tentunya tidak semua bisa dinikmati, masih ada pedagang asongan yang berkeliaran dan tentunya pengamen semakin melengkapi ketidaknyamanan Monas.

Saya tertarik dengan sepasang muda-mudi yang keliatannya mereka punya hubungan dekat. Kebetulan disamping mereka ada satu bangku taman lagi yang kosong dan saya berencana untuk duduk di bangku kosong tadi. Tapi ternyata pasangan tadi lalu buru-buru duduk menjauh dan berpisah bangku. Saya duduk di samping sang pemuda itu. Saya perhatikan pria itu dari ujung kaki sampai kepala. Dekil... itulah kesan pertama yang saya lihat. Rambutnya kusut, dan ia tampak sedang memikirkan sesuatu yang amat rumit. Sebentar-sebentar ia menggaruk rambut gondrongnya, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam sambil menatap bintang di langit cerah. Jujur saja atmosfer saat itu mendadak tidak menyenangkan dan akhirnya saya memutuskan untuk pergi dari bangku itu, meninggalkan mereka berdua yang sedang menikmati masalah mereka.

Dan tentunya banyak lagi kisah yang bisa kita lihat dan cermati di Monas. Cobain aja sendiri dan rasakan sensasinya...

Selasa, 22 April 2008

Menjadi Pribadi To Do, To Have, atau To Be?


"Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain" (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, "Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis." Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobsesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.
Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobsesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mensyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.


Memaknai hidup

Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"
Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!


Sumber: Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin