Pernah ngerasa terdiskriminasi gak? Diskriminasi emang pastinya gak enak, ada sesuatu yang memberlakukan kita dengan berbeda dengan manusia lainnya. Diskriminasi besar bisa dilakukan kepada suatu rezim atau pemerintahan, diskriminasi menengah bisa dilakukan dalam satuan kecil lagi dalam masyarakat seperti di tingkatan provinsi bahkan sampai pada tingkatan keluarga. Namun ada lagi diskriminasi lain yang tampaknya sangat tidak kentara yaitu diskriminasi dalam hubungan perseorangan antar individu. Diskriminasi personal ini bisa terjadi dalam hubungan kerja (kantor), pertemanan dan persahabatan, dan beberapa bentuk interaksi lagi.
Kalo belum pernah ngalamin diskriminasi dalam bentuk besar seperti di Afrika Selatan dengan politik apartheid-nya dimana orang berkulit hitam mendapat perlakuan buruk dari penguasa yang berkulit putih. Tapi kita semua pasti pernah mengalami diskriminasi sosial dari seseorang. Dan rasanya, pasti gak enak... Kalo kita ngomong dicuekin, dipandang sebelah mata, kalo kita berbuat baik selalu dianggap salah, kalo kita berbuat baik dianggap cari muka, kalo kita nawarin sesuatu ditolak, dan lain sebagainya.
Saya sekarang sedang merasakan adanya bentuk diskriminasi sosial dalam hubungan keseharian. Ada seseorang yang tadinya dekat dengan saya sekarang menjauh dari saya dan kalo kata saya dia mendiskriminasikan saya dengan teman-teman yang lain seolah saya virus berbahaya yang harus dijauhi atau najis besar yang tidak boleh disentuh. Bayangkan, kalo saya nawarin permen atau kue pasti ditolak tapi kalo orang lain yang nawarin pasti diterima. Kalo orang lain disapa dengan ramah, kalo saya cukup diberi senyum ketus sudah baik. Pertanyaan saya; kenapa dengan saya..? Ada yang salahkah dengan saya? Apakah badan saya bau? Atau mulut saya yang bau? Atau ada kata-kata atau sikat saya yang pernah menyakitinya? Allahu’alam... hanya Allah yang tahu kenapa dia memberlakukan saya seperti itu? Saya berharap hubungan kami bisa normal lagi, seperti dulu. Atau minimal kalo tidak bisa seperti dulu lagi minimal jangan memberlakukan saya berbeda dengan teman-teman lainnya, saya manusia juga yang mempunyai hati nurani dan punya kadar sensitivitas. Masalah kenyamanan dalam interaksi ini harus segera dicarikan solusinya agar tidak mengganggu produktivitas. Tapi uniknya orang yang saya maksud ini kalo diajak bicara dan saya tanyakan adakah yang salah dengan saya dia selalu bilang gak ada apa-apa, saya tambah bingung. Apa yang salah dengan saya? Atau ada yang salah dengan dia? Saya jadi bingung....
Selasa, 18 Maret 2008
Kamis, 13 Maret 2008
Terkadang...

Terkadang kuinginkan
yang hilang kan terulang
Terkadang kumau
yang pergi tuk kembali
Terkadang kuberharap
yang duka sirna selamanya
Terkadang kubercita
dalam hampa tanpa kerja
Terkadang kusesali
yang terjadi menimpa diri
Terkadang kuramaikan suasana
dengan canda tawa penghapus lara
Terkadang kusunyikan suasana
dalam kebersamaan dengan kesendirian
Terkadang kutergoda
dan terlena dalam tipu daya
Terkadang kutancapkan cita
agar berbunga namun tak kuasa
yang hilang kan terulang
Terkadang kumau
yang pergi tuk kembali
Terkadang kuberharap
yang duka sirna selamanya
Terkadang kubercita
dalam hampa tanpa kerja
Terkadang kusesali
yang terjadi menimpa diri
Terkadang kuramaikan suasana
dengan canda tawa penghapus lara
Terkadang kusunyikan suasana
dalam kebersamaan dengan kesendirian
Terkadang kutergoda
dan terlena dalam tipu daya
Terkadang kutancapkan cita
agar berbunga namun tak kuasa
Senin, 10 Maret 2008
Mengamati Balita

Di rumah, anggota keluarga termuda adalah adik saya yang saat ini usianya hampir 24 tahun. Jadi dapat dipastikan d rumah sudah hampir tidak terdengar suara anak-anak lagi. Tapi terkadang (bakan hampir setiap hari) sepupu saya yang tinggal dekat rumah bermain ke rumah kami.
Mereka memiliki dua orang anak, yang pertama Raihan saat ini usianya hampir 6 tahun dan yang kedua Randy usianya sekitar setahun. Yang menarik adalah kedekatan kami dengan Raihan dan Randy, hampir setiap hari mereka main ke rumah kami dan saya melihat mereka sebagai halang menyenangkan bagi orang-orang di rumah. Kakak beradik itu seperti menjadi bagian dari keluarga, Mama – Papa sangat menyayangi mereka seperti cucu mereka sendiri (walaupun saat ini statusnya hanya cucu ponakan).
Adalah sangat menyenangkan bisa melihat mereka setiap hari. Tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak pada umumnya. Setiap hari selalu ada saja ulah dan hal baru yang mereka lakukan yang membuat mereka semakin besar dan dewasa. Dari mereka yang baru saja lahir, belajar minum ASI, mulai bisa berkata-kata, mengenali wajah dan suara orang-orang di sekitarnya, belajar berjalan, mulai pergi mengaji dan aktivitas lainnya.
Saya teringat perkataan Defrizal, salah seorang sahabat saya, “Sungguh setiap hari adalah terlalu berharga untuk dilewatkan, karena melihat anakku tumbuh setiap hari adalah kebahagiaan”. Memang melihat pertumbuhan seorang anak adalah sangat menyenangkan terlebih ia adalah anak kita sendiri. Semoga setiap hari akan selalu penuh kebahagiaan bersama mereka.
Mereka memiliki dua orang anak, yang pertama Raihan saat ini usianya hampir 6 tahun dan yang kedua Randy usianya sekitar setahun. Yang menarik adalah kedekatan kami dengan Raihan dan Randy, hampir setiap hari mereka main ke rumah kami dan saya melihat mereka sebagai halang menyenangkan bagi orang-orang di rumah. Kakak beradik itu seperti menjadi bagian dari keluarga, Mama – Papa sangat menyayangi mereka seperti cucu mereka sendiri (walaupun saat ini statusnya hanya cucu ponakan).
Adalah sangat menyenangkan bisa melihat mereka setiap hari. Tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak pada umumnya. Setiap hari selalu ada saja ulah dan hal baru yang mereka lakukan yang membuat mereka semakin besar dan dewasa. Dari mereka yang baru saja lahir, belajar minum ASI, mulai bisa berkata-kata, mengenali wajah dan suara orang-orang di sekitarnya, belajar berjalan, mulai pergi mengaji dan aktivitas lainnya.
Saya teringat perkataan Defrizal, salah seorang sahabat saya, “Sungguh setiap hari adalah terlalu berharga untuk dilewatkan, karena melihat anakku tumbuh setiap hari adalah kebahagiaan”. Memang melihat pertumbuhan seorang anak adalah sangat menyenangkan terlebih ia adalah anak kita sendiri. Semoga setiap hari akan selalu penuh kebahagiaan bersama mereka.
Cinta yang Dipilih
Akhirnya saya tergoda dengan maraknya maillist, buletin di FS, email dari teman dan berbagai hal lainnya yang menggambarkan banyak hal tentang film Ayat-ayat Cinta (A2C). Kamis, 6 Maret 2008 akhirnya saya menyempatkan diri untuk menonton film itu.
Sebelumnya, saya ingat ketika kuliah dulu waktu novel A2C ini muncul dan menjadi polemik di banyak teman-teman saya. Saya begitu acuh – bahkan terkesan tidak suka – dengan novel ini. Alasannya sederhana, karena banyak teman-teman wanita saya yang akhirnya terbawa akan fantasi pada kesempurnaan seorang pria yang bernama Fahri, jujur waktu itu saya kesal – mungkin cemburu – dengan tokoh itu, saya merasa dibanding-bandingkan dengan tokoh rekaan yang saya pikir hampir tidak mungkin ada orang sesempurna itu. Saya dulu sempat merasa bahwa membaca novel itu adalah pekerjaan yang mubazir, tidak produktif dan buang-buang waktu.
Tapi seiring berjalannya waktu, penilaian saya akan novel mulai berubah. Pengaruh lingkungan dan beberapa sahabat membuat saya mulai menyukai membaca novel. Beberapa novel yang dikatakan best seller atau menjadi rekomendasi selalu saya sempatkan buat membacanya akhir-akhir ini, sebutlah tetralogi Laskar Pelangi, Da Vinci Code dan lainnya. Tentunya saya mencoba menjadikan membaca novel ini tetap menjadi hal yang produktif dan bermanfaat.
Kembali ke A2C, ketika sebelum menontonnya saya sempatkan berkonsultasi dulu kepada sahabat saya yang memahami novelnya, tujuannya agar saya dapat menilai film itu dengan objektif dan tidak langsung mengatakannya baik atau mencelanya bila buruk. Dan hasilnya... saya memberikan nilai B untuk film ini. Saya menilai penokohan dalam film ini kurang mendalam. Para aktor dan aktrisnya yang “nanggung” untuk sebuah cerita besar yang menampilkan tokoh multi bangsa karena saya menilai beberapa tokoh dimainkan oleh aktor atau aktris yang kurang tepat, contohnya tokoh Noura yang diceritakan sebagai gadis Mesir diperankan oleh Zaskia yang berwajah sangat Melayu dan ada beberapa tokoh lainnya yang saya anggap kurang tepat. Lalu masalah nilai yang dibawa oleh film ini juga kurang mendalam, dimana tidak bisa menggambarkan secara utuh nilai-nilai cinta dalam Islam.
Namun terlepas dari kekurangan film ini ada beberapa hal yang dapat saya petik. Minimal ada tiga nilai yang dapat diambil yakni; sabar, ikhlas dan adil. Tapi ada hal yang saya pikir harus juga menjadi pelajaran terutama bagi kaum Adam, yakni jangan mempermainkan hati wanita dan harus memberikan kepastian pada wanita, kuatirnya nanti akan muncul rekayasa seperti yang dilakukan Noura pada Fahri. Jangan sampai kita mengalaminya ya...
Jum’at pagi, 7 Maret 2008, setelah nonton A2C malamnya
Sebelumnya, saya ingat ketika kuliah dulu waktu novel A2C ini muncul dan menjadi polemik di banyak teman-teman saya. Saya begitu acuh – bahkan terkesan tidak suka – dengan novel ini. Alasannya sederhana, karena banyak teman-teman wanita saya yang akhirnya terbawa akan fantasi pada kesempurnaan seorang pria yang bernama Fahri, jujur waktu itu saya kesal – mungkin cemburu – dengan tokoh itu, saya merasa dibanding-bandingkan dengan tokoh rekaan yang saya pikir hampir tidak mungkin ada orang sesempurna itu. Saya dulu sempat merasa bahwa membaca novel itu adalah pekerjaan yang mubazir, tidak produktif dan buang-buang waktu.
Tapi seiring berjalannya waktu, penilaian saya akan novel mulai berubah. Pengaruh lingkungan dan beberapa sahabat membuat saya mulai menyukai membaca novel. Beberapa novel yang dikatakan best seller atau menjadi rekomendasi selalu saya sempatkan buat membacanya akhir-akhir ini, sebutlah tetralogi Laskar Pelangi, Da Vinci Code dan lainnya. Tentunya saya mencoba menjadikan membaca novel ini tetap menjadi hal yang produktif dan bermanfaat.
Kembali ke A2C, ketika sebelum menontonnya saya sempatkan berkonsultasi dulu kepada sahabat saya yang memahami novelnya, tujuannya agar saya dapat menilai film itu dengan objektif dan tidak langsung mengatakannya baik atau mencelanya bila buruk. Dan hasilnya... saya memberikan nilai B untuk film ini. Saya menilai penokohan dalam film ini kurang mendalam. Para aktor dan aktrisnya yang “nanggung” untuk sebuah cerita besar yang menampilkan tokoh multi bangsa karena saya menilai beberapa tokoh dimainkan oleh aktor atau aktris yang kurang tepat, contohnya tokoh Noura yang diceritakan sebagai gadis Mesir diperankan oleh Zaskia yang berwajah sangat Melayu dan ada beberapa tokoh lainnya yang saya anggap kurang tepat. Lalu masalah nilai yang dibawa oleh film ini juga kurang mendalam, dimana tidak bisa menggambarkan secara utuh nilai-nilai cinta dalam Islam.
Namun terlepas dari kekurangan film ini ada beberapa hal yang dapat saya petik. Minimal ada tiga nilai yang dapat diambil yakni; sabar, ikhlas dan adil. Tapi ada hal yang saya pikir harus juga menjadi pelajaran terutama bagi kaum Adam, yakni jangan mempermainkan hati wanita dan harus memberikan kepastian pada wanita, kuatirnya nanti akan muncul rekayasa seperti yang dilakukan Noura pada Fahri. Jangan sampai kita mengalaminya ya...
Jum’at pagi, 7 Maret 2008, setelah nonton A2C malamnya
Jumat, 29 Februari 2008
Indahnya Kesendirian

Saya punya banyak teman, sahabat tidak banyak. Sahabat berasal dari berbagai macam orang dan tentunya beragam juga pemahamannya. Sahabat saya yang utama adalah teman-teman SMP saya, mereka adalah: Amril, Riza, Oki, Dullah dan Lukman, kadang-kadang ada Zul ataupun Wandi dalam gang kami ini. Dahulu kami sangat dekat dan kental sekali pertemanannya. Tapi seiring berjalannya waktu dan kedewasaan kami menjadi jarang bertemu. Saya mengatakannya sebagai konsekuensi kedewasaan, so aling-aling kita ketemu haya setahun sekali saat hari raya. Mereka semua sudah menikah kecuali Oki. Maka tak heran jika saya dan Oki yang merasa sama-sama jomblo menjadi dekat. Ya... karena perasaan senasib mungkin. Walaupun saya dan Oki dekat tapi kami jarang bersama, paling-paling cuma akhir pekan saja kami bertemu.
Tapi disaat hari kerja dan hari-hari biasanya saya selalu sendiri. Berangkat kantor sendiri, pulang kantor juga, belanja (shoping) sendirian, ke toko buku sendirian, kalau pun mau hang out sepulang kantor pun sendiri. Tapi saya menikmati kesendirian saya, maka beragam perangkat untuk menghibur diri saya siapkan dari mp3 player yang menemani disaat sepi, permen karet yang siap dikunyah kapanpun, game di hape yang memecah kebete-an serta beragam equipment lainnya seperti laptop dan perangkatnya, mau bagaimana lagi... inilah resikonya jadi jomblo. Namun kesepian itu sama sekali tidak mempengaruhi produktivitas saya.
Tapi pernah selama beberapa waktu saya memiliki teman yang menemani untuk hang out, jalan-jalan, belanja, beli dvd bajakan, makan malam dan beragam aktivitas menyenangkan lainnya. Entah apa yang membuat kita menjadi dekat, mungkin karena sama-sama merasa kesepian, atau berusaha menyesuaikan diri dengan gaya hidup Jakarta yang konsumtif dan “aneh” ini. Saya menjalani persahabatan ini dengan baik, sebagai teman – hanya teman. Kalaupun kita dekat tapi sekali lagi ditegaskan bahwa kami hanya teman, tidak lebih. Saya pun tidak mau melibatkan perasaan yang lebih kompleks untuk hal yang satu ini, prinsipnya: saya senang kamu pun senang - tidak lebih.
Saat ini saya kembali dengan kesendirian saya, tidak ada lagi sahabat yang kemarin-kemarin menemani saya untuk jalan-jalan, makan malam dan aktivitas lainnya. Sahabat yang menemani saya disaat kesendiarian telah memilih jalannya sendiri. Sejujurnya saya merasa kehilangan, karena jujur harus diakui bahwa ada teman lebih baik dan menyenangkan dibandingkan sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Sahabat saya yang satu ini sekarang lebih memilih untuk juga kembali kepada kesendiriannya. Ini pilihannya dan saya harus menghormatinya. Maka kembalilah saya dengan gaya hidup saya yang dulu, ke kantor, pulang kantor, belanja, hang out, nonton dan lainnya sendiri. Memang kesendirian tidak terlalu menyenangkan tapi tetap harus dicoba untuk dinikmati... Bukankah begitu?
Tapi disaat hari kerja dan hari-hari biasanya saya selalu sendiri. Berangkat kantor sendiri, pulang kantor juga, belanja (shoping) sendirian, ke toko buku sendirian, kalau pun mau hang out sepulang kantor pun sendiri. Tapi saya menikmati kesendirian saya, maka beragam perangkat untuk menghibur diri saya siapkan dari mp3 player yang menemani disaat sepi, permen karet yang siap dikunyah kapanpun, game di hape yang memecah kebete-an serta beragam equipment lainnya seperti laptop dan perangkatnya, mau bagaimana lagi... inilah resikonya jadi jomblo. Namun kesepian itu sama sekali tidak mempengaruhi produktivitas saya.
Tapi pernah selama beberapa waktu saya memiliki teman yang menemani untuk hang out, jalan-jalan, belanja, beli dvd bajakan, makan malam dan beragam aktivitas menyenangkan lainnya. Entah apa yang membuat kita menjadi dekat, mungkin karena sama-sama merasa kesepian, atau berusaha menyesuaikan diri dengan gaya hidup Jakarta yang konsumtif dan “aneh” ini. Saya menjalani persahabatan ini dengan baik, sebagai teman – hanya teman. Kalaupun kita dekat tapi sekali lagi ditegaskan bahwa kami hanya teman, tidak lebih. Saya pun tidak mau melibatkan perasaan yang lebih kompleks untuk hal yang satu ini, prinsipnya: saya senang kamu pun senang - tidak lebih.
Saat ini saya kembali dengan kesendirian saya, tidak ada lagi sahabat yang kemarin-kemarin menemani saya untuk jalan-jalan, makan malam dan aktivitas lainnya. Sahabat yang menemani saya disaat kesendiarian telah memilih jalannya sendiri. Sejujurnya saya merasa kehilangan, karena jujur harus diakui bahwa ada teman lebih baik dan menyenangkan dibandingkan sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Sahabat saya yang satu ini sekarang lebih memilih untuk juga kembali kepada kesendiriannya. Ini pilihannya dan saya harus menghormatinya. Maka kembalilah saya dengan gaya hidup saya yang dulu, ke kantor, pulang kantor, belanja, hang out, nonton dan lainnya sendiri. Memang kesendirian tidak terlalu menyenangkan tapi tetap harus dicoba untuk dinikmati... Bukankah begitu?
Selasa, 26 Februari 2008
Kejelasan Alasan

Berat rasanya ketika seorang yang selama ini dekat dengan kita tiba-tiba menjauh. Ya, menjauh untuk alasan yang menurutnya lebih baik. Saya juga yakin ia punya alasan yang tepat mengapa ia melakukannya. Namun, logikanya adalah ALASAN HARUS JELAS dan SETIAP ALASAN PASTI ADA YANG MELATARBELAKANGINYA.
Saya mencoba mencari tahu ada apa dibalik alasannya menjauh dari saya. Apakah ada sikap saya yang salah? Atau perkataan saya? Atau dia terpengaruh oleh perkataan (olok-olok) lingkungan? Atau ada hal lain yang melatarbelakanginya? Sekali lagi saya tegaskan, alasan itu harus jelas.
Setiap kita pasti punya pengalaman spiritual dimana membuat kita seolah tersadar dan mengenang perjalanan kita selama ini sehingga membuat kita berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Biasanya pengalaman seperti ini terjadi ketika kita sakit, atau mengalami kecelakaan atau sedang bermimpi. Saya pun pernah mengalami pengalaman seperti ini ketika saya hampir mati dan melihat tubuh saya sendiri, saya seperti terbang dan menyaksikan bagaimana tubuh saya dipapah beramai-ramai oleh orang ketika saya mengalami kecelakaan. Pengalaman itu tidak terlupakan dan membuat saya menyadari beberapa hal- tidak banyak yang bisa saya sadari ketika itu. Namun penyadaran secara spiritual ini seharusnya membawa perubahan secara seimbang pada manusia. Biasanya ia akan menjadi alim, namun alim yang bagaimana? Tentunya alim yang benar-benar baik idealnya, dimana terdapat keseimbangan antara hubungannya secara vertikal dengan Tuhan dan hubungannya secara horizontal dengan manusia. Hubungan horizontal ini mencakup banyak aspek kehidupan,entah saat kita berada di tempat kerja, berada di rumah, lingkungan rumah dan tentunya menjaga persahabatan dengan orang-orang di sekitar kita.
Kembali kepada seseorang yang satu ini, saya tidak tahu pasti apakah dia mendapat hidayah atau sesuatu seperti itu tapi yang pasti ia berubah. Perubahannya terjadi juga pada tataran sikap, saya merasa seperti diacuhkan dan keramahan yang biasanya muncul lalu tiba-tiba menghilang begitu saja. Padahal sebelumnya hampir setiap hari kami bertemu, berbincang dan menceritakan banyak hal. Sebaiknya perubahan ini juga diimbangi dengan persahabatan yang baik, yah... minimal saling menyapa dan mengucapkan salam (walau hanya basa-basi). Namun, manusia dapat berubah seiring bertambah tuanya usia dan semakin dewasanya diri. Saya mencoba memakluminya, semoga kita berdua bisa menjadi orang yang lebih baik...
Saya mencoba mencari tahu ada apa dibalik alasannya menjauh dari saya. Apakah ada sikap saya yang salah? Atau perkataan saya? Atau dia terpengaruh oleh perkataan (olok-olok) lingkungan? Atau ada hal lain yang melatarbelakanginya? Sekali lagi saya tegaskan, alasan itu harus jelas.
Setiap kita pasti punya pengalaman spiritual dimana membuat kita seolah tersadar dan mengenang perjalanan kita selama ini sehingga membuat kita berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Biasanya pengalaman seperti ini terjadi ketika kita sakit, atau mengalami kecelakaan atau sedang bermimpi. Saya pun pernah mengalami pengalaman seperti ini ketika saya hampir mati dan melihat tubuh saya sendiri, saya seperti terbang dan menyaksikan bagaimana tubuh saya dipapah beramai-ramai oleh orang ketika saya mengalami kecelakaan. Pengalaman itu tidak terlupakan dan membuat saya menyadari beberapa hal- tidak banyak yang bisa saya sadari ketika itu. Namun penyadaran secara spiritual ini seharusnya membawa perubahan secara seimbang pada manusia. Biasanya ia akan menjadi alim, namun alim yang bagaimana? Tentunya alim yang benar-benar baik idealnya, dimana terdapat keseimbangan antara hubungannya secara vertikal dengan Tuhan dan hubungannya secara horizontal dengan manusia. Hubungan horizontal ini mencakup banyak aspek kehidupan,entah saat kita berada di tempat kerja, berada di rumah, lingkungan rumah dan tentunya menjaga persahabatan dengan orang-orang di sekitar kita.
Kembali kepada seseorang yang satu ini, saya tidak tahu pasti apakah dia mendapat hidayah atau sesuatu seperti itu tapi yang pasti ia berubah. Perubahannya terjadi juga pada tataran sikap, saya merasa seperti diacuhkan dan keramahan yang biasanya muncul lalu tiba-tiba menghilang begitu saja. Padahal sebelumnya hampir setiap hari kami bertemu, berbincang dan menceritakan banyak hal. Sebaiknya perubahan ini juga diimbangi dengan persahabatan yang baik, yah... minimal saling menyapa dan mengucapkan salam (walau hanya basa-basi). Namun, manusia dapat berubah seiring bertambah tuanya usia dan semakin dewasanya diri. Saya mencoba memakluminya, semoga kita berdua bisa menjadi orang yang lebih baik...
Senin, 04 Februari 2008
Sesungguhnya Cinta itu (Tidak) Kontroversial

Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya. Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi semerbak.
Lebih mencengangkan lagi, di apartemennya bertebaran buku-buku karya Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya bait-bait syair. "Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut, mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga."Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?
Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati? Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24).
Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah, membaca Al Qur’an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud. Betapa indahnya jalinan cinta itu!Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini saya baru mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela agama-Nya.
Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi, qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya, hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang sempurna.Puji syukur ya Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu seperti kasus sahabat saya tadi.Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya. Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya. Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh rahmah dan amanah... Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat...
Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon, akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah.”
Langganan:
Postingan (Atom)
