Selasa, 12 April 2011

Beyond Diapers Changing (To the Husband and Father)


(Sebuah cerita dari senior saya yang sekarang sedang menemani istrinya kuliah S2 di Prancis)

Masih ingat nggak malam-malam sepulang kerja dan rumah seperti kapal pecah, berantakan dan kotor. Berharap bisa “meluruskan punggung”, tapi ternyata anak-anak malah belum tidur dan merengek minta ini dan itu, termasuk digendong, diangkat sampe mencapai langit-langit rumah. Berkeinginan ada setidaknya secangkir teh hangat dengan madu dan sedikit lemon would be perfect. Kadang terbit khayalan di rumah istri sudah dandan poll dan menyiapkan air hanget untuk mandi dan message oil beraroma terapi dan siap memijat badan yang pegel-pegel sepulang kerja. Mendamba a decent food untuk mengisi perut yang kosong karena saking sibuknya ndak sempat makan di kantor. Atau sesederhana sang istri bertanya “how was your day?”, “have you got dinner?”. Atau…..punya ekspektasi untuk begitu pulang bisa penuh konsentrasi dengan baju rumahan yang lebih nyaman bisa segera menghadap laptop menyelesaikan kerjaan yang deadline besok pagi, jadi semua akan mahfum jika kita akan khusuk di meja kerja, ruang baca atau apapun yang jadi “gua sakral“ sang penopang keluarga.

Kadang kita, laki-laki, apalagi yang punya istri full sebagai ibu rumah tangga, berfikir (kasarnya) “Hellooo….gw udah capek kerja di kantor…kok di rumah ndak bisa nyantai-nyantai sich…. Nggak tahu apa capeknya kerja, tekanan deadline, harapan bos, kejamnya office politics, and not to mention performance appraisal yang kudu nentuin bonus.” Toch itu semua khan buat keluarga. Istri dan anak-anak…buat mastiin kredit rumah dan mobil bulan ini terbayar dan bisa nyekolahin anak di sekolahan yang katanya bagus dengan biaya pendaftaran bisa beli dua motor keluaran terbaru dan liburan ke tempat-tempat eksotik. Dan sang istri khan “cuma” ngurusin satu dua atau hitungan jari anak lainnya. “Why can’t I please get a bit of the so called support?” “Didn’t I deserve it after what I did out there in the office?” And didn’t she know that the world is so much tiring out there?

Kebanyakan kita, para suami dan ayah, berfikir it is just easy to be a woman-in-charged at home untuk istri kita. And yes… isn’t it part of their nature installed as they give a birth to a child or even worse isn’t it something natural in their gene? Hehehe.. They are borned to be those who handle all those things at home and yet have to be very representable to be introduced as our wife to our respective colleagues. Kedengarannya selfish, sangat patriarki, non-feminis atau disebut apalah, tapi memang disebagian kita sering muncul fikiran seperti itu….. terlintas…..dibisikkan setan ataupun merupakan kepercayaan umum di masyarakat kita.

Saya mendapatkan previllage oleh Allah untuk merasakan sebagai person-in-charged di rumah and how hard it is to handle things at home. I have to admit, this is the very most harderst work I have ever took. Sederhananya, sebulan pertama, saya selalu KO tepat jam 6 sore, kadang tanpa sempat menyentuh makam malam. Badan sampai ndak bisa bergerak seperti habis “training session” weight lifting club dulu waktu mahasiswa di Melbourne. Nyaris ndak bergerak sama sekali hingga subuh keesokan paginya. Padahal waktu itu Wawa masih sekolah, jadi dari jam 8.30-4.30, nyaris hanya butuh menjaga Qiyya yang berusia 1 tahun 3 bulan. Secara fisik, cuapek poll…mulai nyiapin dan makein baju wawa sekolah, sarapan pagi bocah-bocah, antar jemput ke sekolah (untungnya disini bapak2 antar jemput sekolah adalah pandangan yang biasa, jadi ndak kudu merasa aneh laki sendirian di tengah omak-omak Prancis ;)), bersih ini dan itu, pengen masak enak (walaupun anak dan istri ndak pernah mensyaratkan rasa tertentu, di kamus mereka hanya ada 2 kategori: enak dan enak sekali, Alhamdulillah), rutinitas masukin baju ke mesin cuci, jemur, angkat, belanja harian ke marche, nyiapin dan kadang nyuapin makan siang Qiyya. Semuanya kedengaran biasa dan simple, tapi melakoninya..sungguh mendingan nyetir seharian sampai malam dari Bogor keliling Jakarta ngurusin semuanya tetek bengek beasiswa sebelum keberangkatan atau ngajar seharian penuh, plus naek kereta ke salemba ngejar ngajar extension.

Secara mental…ini yang berat banget… I mean kerjaan ini ndak ada yang bakal ngelihat performance, tampil di publik atau at least dihadapan mahasiswa, jadi kelurusan niat dan keihklasan jadi tameng yang paling kena serang. Tapi yang paling berat adalah berhadapan dengan anak-anak yang ndak selalu mereka manis dan manut. They simply sometimes just being unique. But you sometimes found that they are challanging you, testing you. Nangis ndak mau sekolah, pipis dan pupup dimana aja dan sesuka kapannya, numpahin A, B atau C ke pakaian terbaik kamu, atau menghancurkan mainan yang dulu adalah mainan idamanmu waktu kecilmu tapi ndak pernah kamu miliki dan membelinya dengan nabung dulu, ndak mau ndengarin kata, perintah, saran, nasehat ayahnya (come on hey…they are just kid, not adult like your teaching assistant or secretary, for God’s sake). But again, you sometimes just can’t handle it when you feel you’ve been telling them thousand of times and why in the world they don’t get it? Belum lagi kalo you feel being humiliated in public, because they don’t want to use the seat belt in your friends’ car, they cried out loud at school and don’t behave they are “supposed to be expected” or do things one way or another just make you feel embarrased. But the worse ever is when once you lose you control, not necessarily hurting them with your hand (Allah…please never let me ever once commit it to my love ones),but a higher tone of voice or a thread or simply when you just run somewhere and hit something just to lose your emotion without your kid’s notice. And….several minutes after…it was just penyesalan yang amat sangat dalam. Rasa bersalah yang sangat mampu membunuhmu. Dan perasaan that “I am not a good father”… and hantaman-hantaman realitas bahwa mereka begitu karena kita yang memberikan contoh yang tidak baik, lingkungan yang tidak mendukung dan gen yang mengalir dalam darahnya. Bukannya mereka terlahir fitrah…. But again,semuanya serasa mudah dan remeh sekali rasanya, kok bisa mengatakan ini sangat emotionally-tiring? I tell you bro…. ketika melakoninya dunia ini seakan tertutup dan logika orang dewasa yang cerdas manapun kadang kalah oleh kejengkelan yang membakar kepala. Kalo ndak ingat betapa Rosul sayang sama anak kecil, yang bahkan menegur orang tua yang “merenggut’ anaknya dari gendongan Rasulullah karena buang air kecil di pangkuan Rosul (dengan mengatakan, Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”) rasanya udah keluar Medanku ini hehe ;). Dan ketika itulah jika pasangan tiba2 menghubungi (dgn nelpon atau apalah) rasanya terselamatkanlah diri dan anak-anak ini (sekarang dech baru bisa mengerti, kenapa si bunda minta di telpon kalo lagi senggang di kantor, atau tiba-tiba nelpon pas kita lagi repot2nya kerja). But omak-omak sedunia, man are not having those multitasking brain, jadi juga jangan berkecil hati kalo mereka cuma menjawab he-eh, iya...as if they don’t put their full attention to your need-to-be-rescued-call ya… And for bapak2 sedunia, we are not having those previlage of having multitasking brain, but we do have multi-windows heart (apa pulak lagi artinya ini), use it wisely! ;)

Then I learn that, something small can be so meanigful for those who’ve been at home 24/7. hadiah umpamanya, surprised2 ringan. Oh ya, Rasulullah membiasakan kalau keluar kota, dalam perjalanan yang agak jauh, beliau pulang membawa oleh-oleh sebagai hadiah untuk istri beliau. Pernah Rasulullah saw. tidak ada yang bisa dibeli, kemudian beliau mencari batu di padang pasir terus dibersihkan, dirapiin, terus dikasihkan kepada Aisyah.
Nabi juga ngerjain kerjaan rumah. Nah ini yang terasa sekali. Most of the time, ketika pulang kita malah minta dilayani, bukan membantu melayani. Weekend dan hari libur jadi “me-day”…hehehe. Padahal Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari).

Kalo begini jadi ingat babak (panggilan untuk Bapak di keluarga kami), yang merantau kemana-mana (hingga jadi TKI gelap di Malaysia) demi mamak dan kami anak2nya. Dan dia setiap sebelum berangkat kerja menyapu rumah, kadang ikut nyuci berdua mamak di hari minggu. Belum lagi waktu mamak lumpuh dan aku masih kecil sekali (kata tetangga waktu itu aku seperti bayi Ethiopia yang amat sangat cungkring tak berpan**t, sampai dipanggil si pan**t tepos, dan pernah ketemu lagi dgn tetangga itu yang terkejut melihat saya bisa tinggi dan punya hidung besar ;)) , harus masak, memandikan mamak ke kamar mandi dengan menggendongnya, menyuapinya sebelum berangkat ke tempat kerja. Untuk ukuran laki-laki padang jaman bahela (pariaman lebih tepatnya!) yang bahkan pemandangan laki-laki menggendong anak saja sudah sangat berkurang kemaskulinannya (ini tahunya dari tante Eva mathon ;)), apalagi minimnya contoh (kakekku seorang yang "terpaksa" memiliki istri 12 karena beliau diminta sama orang2 diberbagai kampung untuk menikahi anak-anak mereka (well, dia pendekar, jadi orang-orang ingin bermenantukan dia untuk melindungi keluarganya dan menigkatkan "gengsi" keluarga. walaupun nenek adalah yang selalu menjadi utama. Oh ya, nenek gw juga pendekar, surprisingly, dan punya rekor mengalahkan laki-laki2 biadab yang hendak menyerobot warisan kakek hingga mereka terpu**p-p*p*p...ah inimah nanti aja ceritanya, di epik yang lain kali ya...), apalagi kata orang-orang dia tampan, putih, tinggi, jago silat (kalo kataku lebih dari itu...tapi btw, kok ndak ada nurun2nya ke gw ya... hicks!), dia sudah memberikan contoh yang sangat cukup untukku. Love you, babak....very much (andl love my mamak even more ;)).

Anyway, cukuplah dua nasehat ini menjadi pelita dalam kegelapan (aduh…jadi ingat lagu hymne guru ye…) sementara mencari-cari ilmu lainnya:
1. “Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya (HR. At-Trimidzi)
2. Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”.

Makanya sayangilah banget2 istri yang ibu rumah tangga….. lebih sayang lagi kalo suaminya yang sementara jaga kandang ngurusin rumah...,.nah lho…hehehe… (alfa, dari millist seorang sahabat)

Kamis, 10 Maret 2011

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?


Orang tua kita mengatakan, jika ingin sukses kita harus mau kerja keras. Tetapi, banyak para pelatih sukses yang mengatakan kita harus kerja cerdas. Apa perbedaan kedua istilah tersebut dan mana yang benar?

Apa yang dikatakan orang tua, belum tentu kuno. Justru ada kebijakan dibalik itu. Begitu juga, kita jangan dulu menolak konsep baru, karena teknologi dan informasi mengalami kemajuan terus. Apakah kerja cerdas itu hanya hiperbola?

Saya setuju dengan apa yang dikatakan orang tua tentang bekerja keras. Jika mau sukses, kita memang harus bekerja keras. Saya mengetahui beberapa kehidupan orang-orang yang sukses dalam bisnis, mereka bekerja keras untuk bisnis mereka. Orang yang sukses dalam karir, mereka kerja keras dalam karirnya. Begitu juga, orang yang sukses dalam dakwahnya, mereka kerja keras dalam dakwahnya.

Saat ada orang yang mengatakan kita hanya perlu kerja cerdas, tanpa harus kerja keras, saya tidak setuju. Tapi, saya setuju dengan kerja cerdas. Yang benar menurut saya adalah, kita perlu kerja keras dan juga kerja cerdas. Jika kita hanya kerja cerdas saja, kita akan kalah oleh orang lain yang kerja cerdas dan kerja keras pula.

Definisi Kerja Keras

Saya kita, kita tidak akan kesulitan untuk mendefinisikan kerja keras. Kerja keras itu adalah bekerja dengan waktu yang cukup lama dan energi sebesar mungkin. Agar kita bisa memberikan energi yang besar dalam bekerja, artinya kita harus fokus pada pekerjaan kita. Itulah cara memberikan energi terbesar.

Bagaimana kita bisa bekerja keras? Kuncinya ialah Anda harus memiliki motivasi tinggi.

Definisi Kerja Cerdas

Apa itu kerja cerdas? Kerja cerdas itu adalah bagaimana kita bekerja sebaik mungkin dengan hasil yang lebih besar untuk usaha yang sama. Atau hasil yang sama dengan usaha yang lebih sedikit. Bagaimana caranya? Banyak sekali, kuncinya ialah dengan menggunakan apa yang disebut daya ungkit. Saya yakin, jika Anda setidaknya lulusan SMP, Anda sudah belajar tentang pengungkit pada bab Pesawat Sederhana pelajaran Fisika. Pengungkit adalah alat yang memungkinkan kita bisa menghasilkan kerja dengan usaha sekecil mungkin.

Contoh pesawat sederhana yang menggunakan daya ungkit adalah dongkrak mobil. Kita tidak akan kuat untuk mengangkat dan menahan mobil dengan tenaga tangan kita, tetapi dengan bantuan dongkrak, kita menjadi mampu mengangkat dan menahan mobil kita tanpa energi yang lebih besar. Pertanyaanya ialah: apa “dongkrak” yang bisa digunakan untuk bisnis atau karir kita?

Anda perlu usaha untuk menemukan daya ungkit dalam bisnis dan karir Anda. Berikut adalah usaha yang bisa Anda lakukan:

  1. Belajar kepada orang lain, apa yang sudah terbukti berhasil yang pernah dilakukan oleh orang lain. Tidak perlu dari nol! Ikuti cara tersebut, Anda tidak akan membuang waktu belajar dari nol lagi.
  2. Carilah ide untuk meningkatkan kinerja atau hasil dari apa yang Anda biasa atau sudah dilakukan. Coba bayangkan, Anda sudah bekerja dengan cerdas ditambah dengan kerja keras, maka sukses insya Allah ada dihadapan Anda.

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)

Allah SWT menyukai hamba-Nya yang suka kerja keras. (Alfa, dikutip dari millist sahabat)

Kamis, 10 Februari 2011

Mimpi Adalah Kenyataan Hari Esok


Benarkah mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok? Jika Kita orang optimis, Kita akan mengetujuinya. Tapi mungkin saja Kita masih berpikir, kemudian otak berputar mencari bantahan terhadap ungkapan ini. Bahkan Kita yang membantah bahwa kita tidak boleh sok tahu dengan masa depan, karena itu adalah urusan Allah.

Kita bukan sok tahu tentang masa depan, tetapi kita menginginkan sesuatu di masa depan, atau yang kita sebut dengan cita-cita. Mimpi, selama itu positif akan mengarahkan tindakan kita pada hal yang positif pula.

Bagaimana agar mimpi kita menjadi kenyataan di hari esok?

Beda Mimpi dengan Panjang Angan-angan

Agar tidak terjadi salah paham bahwa Motivasi Islami mengajarkan panjang angan-angan, saya akan jelaskan apa bedanya mimpi dengan panjang angan-angan. Mimpi artinya mengingkan sesuatu di masa depan. Sementara, panjang angan-angan adalah mengkitalkan masa depan. Mengkitalkan masa depan jelas tidak boleh, sebab hidup kita akan tergantung oleh sesuatu yang belum jelas. Sementara menginginkan sesuatu di masa depan adalah hal yang berbeda dan itu adalah sah-sah saja selama keinginan itu baik untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Agar Mimpi Menjadi Kenyataan

Supaya mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok bukan sekedar slogan, ada syarat-syarat yang harus kita penuhi. Harus bertindak? Ya, tetapi bertindak bukan segalanya. Kebanyakan orang akan mengatakan mimpi tanpa tindakan akan percuma. Memang iya, namun pemahaman ini belum seutuhnya benar karena ada pemisahan antara mimpi dan tindakan. Padahal, pikiran dan tindakan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Lalu seperti apa? Tidak perlu bertindak? Bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah mimpi itu sendiri akan membawa tindakan. Tindakan Kita yang lahir itu adalah hasil dari mimpi. Jika seseorang mengaku memiliki impian besar tetapi tidak ada tindakan untuk mewujudkannya, artinya dia tidak benar-benar punya impian. Impiannya hanya di mulut saja sebagai hiasan dalam bicara. Jika impian tersebut sudah tertanam dalam hati, maka tindakan akan secara otomatis mengikutinya.

Jadi, kunci utama agar mimpi menjadi kenyataan ialah kita harus benar-benar menginginkan impian itu. Tindakan akan mengikuti secara otomatis tanpa harus diperintah lagi. Tindakan otomatis inilah yang akan menjadikan mimpi itu adalah sebuah kenyataan. Kita tidak akan nyaman hanya berdiam diri saja tanpa melakukan usaha yang mendekatkan kepada impian. Tidak perlu di dorong-dorong oleh orang lain atau diri sendiri. Tindakan akan hadir dengan sendirinya.

Ingat hadist yang mengatakan jika hati kita baik maka segalanya akan baik. Hati adalah raja, tubuh adalah prajuritnya. Jika hati sudah mengarah ke satu arah maka tubuh pun akan mengikutinya. Semuanya tergantung niat dan niat letaknya di hati. Mimpi itu adalah niat kita untuk mendapatkan sesuatu di masa depan. (Alfa, dari web sebelah)

Sabtu, 08 Januari 2011

Life is an Adventure


I want to live my life to the absolute fullest,
To open my eyes to be all I can be,
To travel roads not taken,
to meet faces unknown,
To feel the wind,
To touch the stars.

I promise to discover myself ,
To stand tall with greatness,
To chase down and catch every dream,
LIFE IS AN ADVENTURE...!

(alfa, dikutip dari kata-kata iklan TV yang kebetulan menjadi iklan favorit anak saya)

Rabu, 15 Desember 2010

Adab Makan

Hai anak Adam, pakai" lah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS AlA'raf [7]: 31).

Makna `janganlah berlebihlebihan' dalam ayat di atas sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan terjemahannya adalah janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Terkait hal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih buruk untuk dipenuhi oleh seseorang selain perutnya, padahal cukup beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya.
Bila terpaksa ia lakukan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas."

(HR Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, dan beberapa perawi lainnya).

Makan secara berlebihan dapat menyebabkan kelambanan dan kelebihan beban pada pencernaan serta fermentasi makanan dalam perut. Hal ini terkadang bisa mengakibatkan luka dan peradangan pada perut, kerongkongan, dan usus dua belas jari.

Hilmy al-Khuly dalam bukunya Mukjizat Kesembuhan Dalam Gerakan Shalat, menyebutkan, bila perut dipenuhi oleh makanan, kemudian timbul proses fermentasi di dalamnya, maka dapat menimbulkan berbagai efek negatif, yaitu in'ikas ashabiy (reflek gerak pemantulan dan pembalikan saraf) terhadap kondisi jantung; idhthirab al-qalb (denyut jantung berdebar-debar) yang tekanannya bisa menurun dan bisa pula meninggi; dan terjadinya kejang jantung. Karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan dalam menyantap makanan sebagai upaya mengendalikan syahwat makan. Pertama, qul bismillaahi, ucapkanlah bismillah ketika hendak makan. Kedua, kul biyamiinika, makanlah dengan tangan kananmu. Dan ketiga, kul mimmaa yaliika, makanlah yang terdekat denganmu. (HR Muslim).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak akan makan sampai kami merasa lapar. Jika kami makan, maka kami makan tidak sampai kenyang. (Rasulullah juga bersabda) Tinggalkanlah makanan (justru) ketika engkau sangat menginginkannya."

Dengan demikian, melalui pengendalian syahwat makan ini, kita akan terhindar dari berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan. Sebab, perut adalah sarangnya penyakit, sebagaimana dikatakan Harits bin Kaldah, seorang tabib bangsa Arab, "Diet (mengatur pola makan) adalah pokok segala pengobatan, sedangkan perut adalah sarang penyakit. Oleh karena itu, kembalikanlah tubuh pada kebutuhan proporsionalnya." Wallahu a'lam. (Alfa, diambil dari http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/12/15/152473-adab-makan)

Perjuangan dan Kesabaran

Hidup adalah perjuangan. Itu kata orang. Memang benar, dalam hidup akan penuh dengan perjuangan. Terutama bagi mereka yang memiliki cita-cita besar, baik cita-cita pribadi maupun cita-cita dalam dakwah. Bagi mereka yang tidak memiliki cita-cita besar, tidak akan mampu melihat bahwa hidup penuh dengan perjuangan. Yang ada di depan mereka hanyalah bagaimana mencari kesenangan belaka.

Jika Anda merasa bahwa hidup penuh tantangan, halangan, rintangan, dan ujian, artinya hidup Anda memang penuh perjuangan. Anda termasuk orang yang memiliki cita-cita yang tinggi, baik meraih pencapaian yang besar maupun melepaskan diri dari masalah besar yang menghimpit. Satu hal yang diperlukan dalam perjuangan adalah kesabaran.

Apa Itu Kesabaran?

Secara singkat, sabar bisa didefinisikan sebagai ridha, tenang, teguh, dan yakin. Sabar bukan berarti diam dan menyerah. Justru orang yang diam dan menyerah bertolak belakang dengan definisi sabar. Rasulullah saw adalah orang yang paling sabar dan selalu sabar, tetapi beliau tetap berperang, tenang saat menghadapi tekanan, dan yakin bahwa kemenangan akan dicapai.

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).” [Sumber: Dakwatuna.com]

Anda tidak akan pernah mencapai 1.000 langkah jika Anda kehilangan kesabaran di tengah jalan. Perjuangan akan memberikan hasil, dan pasti akan memberikan hasil, jika diiringi dengan kesabaran. Namun, pada kenyataanya, kesabaran sering kali melemah. Saat 100 langkah sudah berlalu, rasa letih mulai menghinggapi diri, maka kesabaran bisa saja berangsur turun. Sampai-sampai, orang yang lemah kesabarannya mengatakan bahwa sabar ada batasnya. Sabar terasa begitu sulit.

Memang benar, sabar itu berat. Bagi kebanyakan orang, sabar itu memang berat, kecuali bagi mereka yang khusyuk.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah:45-46)

Sabar menghadapi kesulitan dan mengerjakan shalat memang berat bagi orang yang tidak khusyuk. Ayat diatas pun menjelaskan kepada kita apa makna khusyuk tersebut (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Kata kuncinya dikata “meyakini”. Meyakini bahwa mereka akan menemui Allah dan mereka akan kembali kepada-Nya. Keyakinan ini, akan menjadikan merekan memiliki cara pandang bahwa nilai dan harga dunia seluruhnya adalah menjadi kecil. Jika seluruh dunia saja kecil, apalagi masalah yang kita hadapi menjadi lebih kecil lagi.

Agar Kesabaran Tetap Ada

Karena itulah, selain sabar, kita pun diperintahkan meminta pertolongan melalui shalat. Shalat adalah penolong yang tidak akan hilang dan bekal yang tidak ada habisnya. Sabar adalah masalah hati, sementara shalat adalah cara agar kita terus memperbaharui hati kita. Dengan shalat, kita yang lemah ini, akan terhubungan dengan Allah Yang Mahakuat dan Mahakuasa. Jelas sudah, bahwa shalat akan menaikan kembali kesabaran kita.

Allah Bersama Orang-orang Yang Sabar

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)

Allah bersama-sama orang yang sabar, menguatkan, memantapkan, meneguhkan, mengawasi, dan menghibur mereka. Allah sebagai tempat bergantung, sehingga kita akan terlepas dari keputus-asaan saat menjalani perjuangan.

Hidup memang penuh dengan perjuangan, tetapi selama kita bersabar kita tidak perlu takut karena Allah bersama orang-orang yang sabar. (Diambil dari website sebelah)

Kisah si Buku Polos


Lembaran kertas putih merasa tak nyaman ketika baru saja keluar dari pabrik. Ia merasa bingung dengan kenyataan dirinya. Tidak ada garis, tulisan, atau warna apa pun kecuali putih. Tapi, wujudnya berbentuk buku seperti yang lain.

“Kok aku beda?” tanya si buku polos ke lembaran buku tulis yang lain. “Beda?” sergah salah satu buku tulis bergaris. “Iya. Coba perhatikan, kamu tercetak dengan garis-garis teratur. Ada yang kotak-kotak. Yang lainnya lagi bahkan ada yang tertulis dengan huruf berwarna disertai kartun lucu,” ucap buku polos bersemangat. “Sementara aku? Boro-boro kartun lucu, satu garis pun tak ada yang hinggap!” tambah si buku polos menggugat.

“Jadi, kamu tak terima?” tanya buku bergaris teratur, lembut. “Tentu saja! Ini tidak adil!” sergah si buku polos begitu spontan.

Semua terdiam. Semua jenis buku tulis mulai ambil jarak dengan buku polos. Mereka khawatir kalau ketidakpuasan bukan sekadar gugatan, tapi berubah jadi tindakan. Hingga...

Seorang anak manusia mengambil buku polos dengan tangan kecilnya. Lembaran buku tak bergaris dan berwarna itu pun dipandangi sang anak begitu tajam. Entah apa yang dilakukan, beberapa menit kemudian, buku polos itu tak lagi putih sepi. Ia sudah berubah menjadi halaman penuh warna. Ada goresan merah, hijau, biru, kuning, dan berbagai perpaduan warna lain.

Ketika buku itu ditinggalkan sang anak, beberapa buku lain datang menghampiri. Semua terperanjat. Karena lembaran yang semula polos, kini berubah menjadi bentuk lukisan penuh warna. “Aih indahnya!” gumam semua buku tulis begitu kagum.

Saat itulah, sang buku polos sadar. Selama ini, ia salah. Kepolosannya tanpa garis bukan bentuk penghinaan terhadap dirinya. Bukan juga ketidakadilan. Tapi, karena ia akan menjadi wadah berbagai goresan warna seni yang akan membentuk karya indah. “Ah, aku ternyata buku gambar!” ucap si buku polos akhirnya.

...

Hidup ini penuh warna. Hampir tak ada yang sama pada ciptaan Allah. Walaupun, masih sama-sama manusia. Ada yang kaya, cukup, dan kurang. Ada yang cantik, tampan; ada pula yang biasa saja. Ada yang berhasil dan sukses, tidak sedikit yang merasa gagal.

Tidak jarang, seorang anak manusia mengambil pandangan dari sudut yang sempit. Bahwa, kegagalan adalah sebuah ketidakberdayaan. Bahwa, belum tampaknya peluang-peluang berkarya adalah ketidakadilan. Hingga, jauhnya jodoh buat para lajang merupakan sebuah hukuman.

Cermati dan pelajari. Karena boleh jadi, di balik kegagalan ada rahasia kesuksesan. Di balik sempitnya peluang, ada ujian kemampuan. Di balik lajang yang berkepanjangan, ada pendidikan kemandirian. Dan di balik kertas polos, ada peluang warna-warni keindahan goresan kehidupan. (Dari group motivasi di millist sebelah)