Kamis, 23 November 2023
Mengenal Generasi ke Generasi
Jumat, 19 Februari 2021
Anak Elang dan Induk Ayam
Suatu hari
ia melihat burung elang sedang terbang dengan anggun dan agung di langit bebas.
Ia bertanya kepada induk ayam hutan: ’Burung apakah yang cantik itu?’ Induk
Ayam hutan menjawab: “Itu adalah seekor elang, ia burung yang terkenal, tetapi
kamu tidak bisa terbang seperti dia karena kamu hanyalah seekor
ayam hutan”.
Anak elang percaya saja dengan cerita itu karena dianggapnya benar. Ia jalani hidupnya, dan mati sebagai seekor ayam hutan, dan kehilangan warisannya sebagai seekor elang, karena tidak mempunyai visi sendiri. Alangkah sia-sia. Ia dilahirkan untuk menang tetapi ia dikondisikan untuk kalah.
Jumat, 10 Februari 2017
Ulama Tak Melulu Sekedar Agama
Secangkir Ilmu Paham
Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah "paham". Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.
Tingkat ke dua terbawah adalah kurang paham. Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham ..., dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar ...!
Naik setingkat lagi adalah mereka yang salah paham. Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.
Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah gagal paham. Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan.
Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja ..., bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan ...?
Tertutup hatinya.
Tertutup akal pikirannya.
Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.
Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri.
Parahnya lagi ...,
Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.
Dia tetap dengan dirinya, dan dia bangga dengan ke-gagal paham-annya...
"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?"
"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah."
Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa ...
Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya.
Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat ..., apa yang disampaikan ...!
Dia paham ...,
Ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya.
Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi.
Dia seperti balon gas yang berada di atas awan.
Dia terbang tinggi dengan kesombongannya ...,
Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,
Dan merasa akulah kebenaran ...!!!
Masalahnya ..., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak.
Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.
Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang ..., dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya ...
Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya ..., dengan penyesalan yang amat sangat dalam.
Jadi yang perlu diingat ...,
Akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah...
Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal...
Ternyata di situlah kuncinya.
"Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya ..., tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar ... !!!"
"Ilmu itu open ending"
Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa2 ... !!!"
Semoga bermanfaat. Aamiin
Dari group WhatsApp
Senin, 14 Desember 2015
Jadilah Pemenang
Ingatlah, Tersandung itu bukanlah jatuh!
Kamis, 03 Desember 2015
MENGAJARKAN NILAI TOLERANSI PADA ANAK USIA DINI*
Senin, 23 November 2015
Dunia dan Masalah Kemanusiaan
"Over the past 12 months, there have been literally thousands of "terrorist" attacks on Muslim countries, but the media has remained staunchly silent about the majority of them: Palestine, Syria, Iraq, Nigeria, Somalia, Afghanistan...
1 day before the Paris incident, a double explosion rocked Beirut killing dozens of people and injuring hundreds more, but no world leaders cried out against it. No global media coverage was made... But when Paris was struck, it was (and still is) breaking news all over the world and Obama stood up and declared,
"Once again, we’ve seen an outrageous attempt to terrorize innocent civilians. This is an attack not just on Paris, it’s an attack not just on the people of France, but this is an attack on all of humanity and the universal values that we share.
We stand prepared and ready to provide whatever assistance that the government and the people of France need to respond. France is our oldest ally. The French people have stood shoulder to shoulder with the United States time and again. And we want to be very clear that we stand together with them in the fight against terrorism and extremism."
The so called "universal" values are in no way "universal" if they are not applied equally to everyone.
When are they going to realise that life is life? It doesn't matter what creed, colour, or religion a person is. It doesn't matter what country, nation, or state they come from.
People are people!
There are good people and there are bad people in every part of the world.
Religion does not create terrorists... However, alienation, distrust, and discrimination create resentment, resentment leads to frustration, frustration leads to anger, and anger leads to violence.
Alienation, distrust, and discrimination is what causes terrorism because we are taught to fear those around us. When we live in constant fear, the "terrorists" have reached their goal.
So now ask yourself... Who are the real terrorists?"
Tulisan wall ini sangat "waras" menggambarkan cara pandang kita sebagai warga dunia. Bagaimana menurutmu? Dan bagaimana pandanganmu sobat?





