Kamis, 23 November 2023

Mengenal Generasi ke Generasi

Generasi adalah kelompok orang yang lahir dan tumbuh pada periode waktu yang relatif serupa. Setiap generasi memiliki karakteristik unik yang dipengaruhi oleh pengalaman dan perubahan sosial pada masa mereka. Berikut adalah pembagian generasi beserta karakteristiknya:

1. Baby Boomers: Generasi kelahiran antara tahun 1946 hingga pertengahan 1960-an. Mereka tumbuh pada masa pascaperang dan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat. Baby Boomers umumnya memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan, loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan, dan kestabilan finansial yang diinginkan.

2. Generasi X: Generasi kelahiran antara pertengahan 1960-an hingga awal 1980-an. Generasi X tumbuh pada masa perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Mereka cenderung mandiri, anti-otoritas, dan beradaptasi dengan perubahan. Generasi ini juga menghadapi tantangan dalam mengimbangi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

3. Milenial: Generasi kelahiran antara awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Milenial merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan eksposur yang intens terhadap teknologi digital. Mereka kreatif, tidak takut mengambil risiko, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Milenial juga sangat terhubung dengan media sosial dan memiliki efek besar dalam perubahan budaya.

4. Generasi Z: Generasi kelahiran antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Generasi Z lahir dan tumbuh pada era teknologi yang benar-benar terkoneksi. Mereka adalah generasi yang paling teknologi-savvy, jarang mengenal dunia tanpa internet. Generasi ini terbiasa dengan informasi instan, lebih toleran, terbuka terhadap perbedaan, serta cenderung memiliki preferensi terhadap pekerjaan yang bermakna.

Setiap generasi memiliki ciri khasnya sendiri dan pengaruh yang besar pada perkembangan sosial dan budaya. Penting untuk memahami perbedaan generasi ini agar kita dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari. #Generasi #KarakteristikGenerasi #PerubahanSosial.

Jumat, 19 Februari 2021

Anak Elang dan Induk Ayam

Sebutir telur elang dieramkan dalam sarang ayam hutan. Telur menetas, dan elang kecil tumbuh dan menganggap dirinya adalah anak ayam hutan. Anak elang berperilaku sebagaimana anak ayam hutan. Ia mengais-ngais tanah untuk mencari makan. Ia berkotek dan berkokok, ia tidak pernah terbang lebih dari beberapa meter, karena seperti itulah tabiat ayam hutan

Suatu hari ia melihat burung elang sedang terbang dengan anggun dan agung di langit bebas. Ia bertanya kepada induk ayam hutan: ’Burung apakah yang cantik itu?’ Induk Ayam hutan menjawab: “Itu adalah seekor elang, ia burung yang terkenal, tetapi kamu tidak bisa terbang seperti dia karena kamu hanyalah seekor
ayam hutan”.

Anak elang percaya saja dengan cerita itu karena dianggapnya benar. Ia jalani hidupnya, dan mati sebagai seekor ayam hutan, dan kehilangan warisannya sebagai seekor elang, karena tidak mempunyai visi sendiri. Alangkah sia-sia. Ia dilahirkan untuk menang tetapi ia dikondisikan untuk kalah.

Jumat, 10 Februari 2017

Ulama Tak Melulu Sekedar Agama

Ulama bukan hanya mengajarkan ilmu agama, ia juga mampu memberi pencerahan terkait hal2 lain yg bersifat pendidikan, kemanusiaan dan kemasyarakatan. Aa Gym bersama kami pernah memberikan motivasi utk anak dan orangtua cerebral palsi beberapa waktu lalu. Suatu bukti bahwa #ulama punya peran penting dalam banyak hal dalam kehidupan kita. Maka jaga dan muliakanlah ulama-ulama
kita.

Secangkir Ilmu Paham

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah "paham". Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.

Tingkat ke dua terbawah adalah kurang paham. Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham ..., dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar ...!

Naik setingkat lagi adalah mereka yang salah paham. Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah gagal paham. Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan.

Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja ..., bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan ...?

Tertutup hatinya.
Tertutup akal pikirannya.
Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.

Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri.

Parahnya lagi ...,

Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.

Dia tetap dengan dirinya, dan dia bangga dengan ke-gagal paham-annya...

"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?"

"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah."

Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa ...

Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya.

Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat ..., apa yang disampaikan ...!

Dia paham ...,

Ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya.

Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi.

Dia seperti balon gas yang berada di atas awan.

Dia terbang tinggi dengan kesombongannya ...,
Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,

Dan merasa akulah kebenaran ...!!!

Masalahnya ..., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak.
Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.

Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang ..., dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya ...

Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya ..., dengan penyesalan yang amat sangat dalam.

Jadi yang perlu diingat ...,
Akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah...
Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal...

Ternyata di situlah kuncinya.

"Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya ..., tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar ... !!!"

"Ilmu itu open ending"
Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa2 ... !!!"

Semoga bermanfaat.  Aamiin

Dari group WhatsApp

Senin, 14 Desember 2015

Jadilah Pemenang



Oleh: K.H. Toto Tasmara (alm.)

Tak perlu berkeluh kesah bila matahari tersungkur menyambut kegelapan. Karena sebentar lagi, engkau akan lihat bintang gemintang bertebaran dan bulan purnama menghangatkan penghuni bumi.

Ketahuilah, kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Kegagalan adalah berita langit yang memberikan pelajaran paling berharga untuk menapaki jalan menuju sukses.

Tak perlu takut bila terjatuh. Justru merintihlah penuh rasa getir bila engkau enggan berdiri untuk bangkit.
Ingatlah, Tersandung itu bukanlah jatuh!

Tak ada anak kecil berlari kencang kecuali mengalami jatuh bahkan terluka. Lihatlah dengan penuh haru, betapa pepohonan di lereng–lereng gunung menyambut hembusan angin dengan wajah semringah.

Karena mereka tahu, hanya pepohonan yang diterjang angin badailah yang akan tumbuh kuat mencengkeram tanah dengan akar-akarnya semakin kokoh. Layang-layang naik menjulang karena ia menentang angin, bukan mengikutinya. 

Kapal yang bagus bukan untuk ditonton atau ditambatkan di pelabuhan, tetapi karena kemampuannya berlayar menerjang samudera di badai topan.

Allah berbisik di setiap nurani manusia yang tabah: “Apakah kamu mengira, kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa orang–orang yang bersungguh–sungguh di antaramu, dan belum nyata orang–orang yang sabar.“ (3: 142)

Setiap hari, muadzin selalu menyeru dan mengetuk hati nurani dengan seruan hayya 'alal falah, ayo menuju keberuntungan dan kemenangan.

Tapi, renungkan dengan hati yang paling tajam, ternyata seruan hayya ‘alal falah pastilah didahului dengan seruan hayya ‘alas shalah. Seakan–akan memberi isyarat tidaklah kemenangan akan diraih kecuali engkau bergerak, qiyam ruku dan sujud.

Meneteskan keringat, mengerahkan segala doa untuk merentangkan jembatan ikhtiar, agar setiap hari kita akan masuk dalam rombongan kaum beruntung, para pemenang, Al Muflihuun!

Generasi penerima amanah langit, bukanlah manusia kardus yang rapuh tertimpa hujan. Jiwa para pemuda yang berjiwa futuwwah (kstaria) adalah para pemberani untuk menghadapi tantangan. 

Karena hanya sang juara (the champ) yang siap menerima tantangan. Sedang para pecundang, tersingkir dari gelanggang dan dilupakan.

Di sini, di dalam dera dunia yang menderu debu, tidak ada tempat bagi manusia lemah yang terpuruk di balik selimut kemalasan. Di sini hanya ada tempat untuk mereka yang siap tarung menunjukkan taring dengan terang . 

Maka, bila mau sejenak bercermin dari para pemenang kehidupan, selalu akan kita jumpai jiwa yang tabah menempuh cita–cita.

Jiwa para pemenang selalu bersuka cita, berdendang riang menghadapi tantangan dan ujian. Jangan bersedih, jangan berkeluh kesah. Karena ratapan tak pernah membuat kehidupan berhenti (Ali Imran: 139). 

Ya, pada kamus para pemenang, tidak akan ditemukan kata menyerah apalagi berputus asa. Mereka punya motto, pemenang tak pernah menyerah dan orang yang menyerah tak pernah menang!

(Mengenang almarhum KH. Toto Tasmara)

Kamis, 03 Desember 2015

MENGAJARKAN NILAI TOLERANSI PADA ANAK USIA DINI*



Setiap manusia terlahir berbeda. Manusia lahir dengan kekhasan dan perbedaannya masing-masing. Perbedaan manusia bisa terjadi secara fisik, tempat lahir, dan karakter. Perbedaan-perbedaan tadi akhirnya menimbulkan adanya perbedaan pandangan dan pola berpikir yang terjadi dalam keseharian manusia dalam beraktivitas, baik itu di sisi sosial, budaya dan agama. Perbedaan yang terjadi tadi perlu disadari oleh manusia yang hidup agar mereka bisa bertoleransi dan hidup dengan rukun di masyarakat.

Secara etimologi, toleransi adalah istilah dalam konteks social, budaya dan agama yang berarti sikap perbuatan yang melarang adanya diskrimiasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas daam suatu masyarakat. Contohnya toleransi beragama menurut Perez Zagorin dalam bukunya How the Idea of Religious Toleration Came to the West mengatakan bahwa toleransi  adalah dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Namun dalam kenyataannya, toleransi bukan hanya terjadi dalam kehidupan beragama saja. Toleransi adalah kondisi saling memahami dan menghormati antara manusia yang satu dan yang lain untuk banyak hal. Bukan hanya yang bersifat keyakinan namun juga hal yang terkadang remeh, bahkan tak penting.

Dalam ranah pendidikan anak usia dini, toleransi muncul untuk hal yang lebih ringan dalam keseharian anak. Toleransi muncul dari hal yang berbau fisik, sikap, cara dan hal lainnya yang terkadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Anak-anak di TK kami terkadang mempermasalahkan temannya yang berrambut keriting, merasa aneh ketika melihat temannya ada yang bersikap berbeda dari dirinya di kelas, mengadukan temannya yang ketika bermain terlalu berani, bahkan merasa risih melihat ada temannya yang dari hidungnya mengalir ingus. Beragam perbedaan tadi perlu disikapi dengan baik oleh guru agar dapat mengarahkan siswa supaya memahami bahwa setiap individu berbeda.

Kami mengajak anak-anak memahami toleransi dalam masyarakat melalui hal-hal kecil, rutin dan (bahkan terlihat) sepele yang dilakukan di sekolah, misalnya dengan mengajak mereka mengenal diri sendiri dan mendefinisikan diri mereka sendiri di depan kelas, sehingga mereka menyadari bahwa setiap individu terlahir berbeda. Untuk memperkenalkan anak-anak pada hal yang lebih substantif seperti perbedaan karakter pada individu, kami mengajak mereka bermain bersama, role play (bermain peran), bahkan membiasakan anak-anak untuk mengingatkan temannya jika ada yang melanggar aturan. Selain dengan kegiatan rutin, kami juga memasukan muatan toleransi dalam bagian tematik pembelajaran yang didalamnya kami mensisipkan pembangunan karakter di dalamnya.

Kami juga mendidik anak agar memahami adanya konsekuensi social yang dapat timbul ketika mereka tidak bisa menjalankan aturan-aturan dengan baik, misalnya ketika ada siswa yang tidak mau antri ketika mencuci tangan maka guru akan memisahkan anak tersebut ketika makan bersama. Toleransi merupakan bekal anak-anak agar bisa survive di dalam masyarakat ketika mereka dewasa nanti. Maka sejak usia dini, kita harus membiasakan toleransi kepada mereka agar mereka siap menghadapi beragam karakter dan pemikiran yang ada di masyarakat nanti ketika mereka menjadi pemimpin negeri ini.

*Artikel juara 1 pelatihan menulis artikel yang dilaksanakan harian Kompas

Senin, 23 November 2015

Dunia dan Masalah Kemanusiaan

Lihat wall salah seorang sahabat saya di FB yang merupakan ekspat asal Inggris yang sekarang tinggal di Bandung, menggelitik dan berpikir sangat objektif ttg kasus Paris dan dunia kemanusiaan. Berikut kutipannya:

"Over the past 12 months, there have been literally thousands of "terrorist" attacks on Muslim countries, but the media has remained staunchly silent about the majority of them: Palestine, Syria, Iraq, Nigeria, Somalia, Afghanistan...
1 day before the Paris incident, a double explosion rocked Beirut killing dozens of people and injuring hundreds more, but no world leaders cried out against it. No global media coverage was made... But when Paris was struck, it was (and still is) breaking news all over the world and Obama stood up and declared,
"Once again, we’ve seen an outrageous attempt to terrorize innocent civilians. This is an attack not just on Paris, it’s an attack not just on the people of France, but this is an attack on all of humanity and the universal values that we share.
We stand prepared and ready to provide whatever assistance that the government and the people of France need to respond. France is our oldest ally. The French people have stood shoulder to shoulder with the United States time and again. And we want to be very clear that we stand together with them in the fight against terrorism and extremism."

So what is he saying here? If they aren't an ally, they aren't a part of humanity? They are not entitled to the same level of respect and sympathy that a US ally nation should get?
The so called "universal" values are in no way "universal" if they are not applied equally to everyone.
When are they going to realise that life is life? It doesn't matter what creed, colour, or religion a person is. It doesn't matter what country, nation, or state they come from.
People are people!
There are good people and there are bad people in every part of the world.
Religion does not create terrorists... However, alienation, distrust, and discrimination create resentment, resentment leads to frustration, frustration leads to anger, and anger leads to violence.
Alienation, distrust, and discrimination is what causes terrorism because we are taught to fear those around us. When we live in constant fear, the "terrorists" have reached their goal.
So now ask yourself... Who are the real terrorists?"

Tulisan wall ini sangat "waras" menggambarkan cara pandang kita sebagai warga dunia. Bagaimana menurutmu? Dan bagaimana pandanganmu sobat?